Saturday, May 7, 2016

ANEKA MOTIF BATIK KABUPATEN SUKABUMI KARYA INOVATIF

ANEKA MOTIF BATIK KABUPATEN SUKABUMI 

SEBUAH KARYA INOVATIF
SONI HENDRAWAN



















Tuesday, November 25, 2014

SERAT-SERAT BUDAYA JAWA BARAT DAN PANDANGAN KRITIS TERHADAP KESENIAN

 Arthur S Nalan

“Semboyan” bhineka tunggal ika” memang selalu mengingatkan kita bahwa negara
kesatuan itu ada karena disangga oleh unsur-unsur yang berbeda. Adapun unsur-unsur
yang berbeda tersebut adalah serat-serat budaya yang sudah berakar dalam pada
masing-masing penyangga republik ini. Adapun serat-serat budaya itu adalah bahasa
ibu di daerah kita, nilai-nilai benar-salah, indah-buruk, pantas-tidak pantas, konsep-
konsep tentang kekuasaan, kedudukan penguasa,_ kedudukan rakyat, ekspresi
kesenian dan sebagainya |agi” (Kayam, 1990).
Kutipan tersebut mengingatkan kita untuk menyadari bahwa serat-serat budaya
yang telah menjadi milik kita telah ada dan tersebar dengan ciri khas sendiri-sendiri.
Milik kita yang memeriukan Sikap dan pandangan kritis didalam memperlakukannya,
terutama kaitannya dengan menumbuh kembangkan identitas nasional. ldentitas
nasional adalah"suatu kualitas batiniah yang disetujui oleh sebagian besar lapisan
suatu bangsa dan dituntut sebagai milik mereka yang khas.”
Masyarakat Jawa Barat pada awa\nya dapat dikategorikan sebagai masyarakat
Iadang (huma) bahkan sisa masyarakat Iadang yang khas sampai sekarang masih
terdapat di daerah Kanekes (Baduy). Pengaruh pola berladang masih terlihat di
beberapa tempat di Jawa Barat, di mana masih terdapatnya orang ngahuma. Sikap
yang paling menonjol dari masyarakat \adang ialah kebiasaan suka berpindah tempat
tinggal untuk mengikuti garapan ladangnya. Sekaiipun kini sudah tidak menggunakan
pola Iadang berpindah, karena semakin terbatasnya Iahan dan pembagian wilayah-
wilayah hunian. Corak hidup demikian mengakibatkan pola berfikir dan cara hidup dan
kebudayaan mereka sederhana, karena keseluruhan hidupnya dipengaruhi oleh cara
hidup mereka sehari-hari yang berpindah-pindah. Di samping itu masyarakat Jawa
Barat sangat erat dengan aiam sekitarnya. Pengaruh Hora cukup menonjol dengan
banyaknya tempat yanng diberi nama tanaman, bahkan telah berkembang menjadi
nama-nama kecamatan, desa, kampung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan. Tradisi
pemukiman pada aliran sungai menggejala dalam sistem toponimi.

BERSAMBUNG....

Friday, November 21, 2014

TEATER RAKYAT UYEG SUKABUMI

TEATER “UYEG” SUKABUMI
            Dilansir dari Duniaart.com kesenian Uyeg yang sudah hilang hampir 470 tahun kembali dipertunjukan di Gedung Pusat Kajian Islam (Islamic Center) lantai 2 jalan Veteran No. 3 Sukabumi pada tahun 2010 dalam acara sosialisasi hasil revitalisasi seni tradisional Uyeg dengan menampilkan cerita lawas yang berjudul Sadar Ditatar Siluman dengan sutradara Cece Suhanda dan para pelaku dari padepokan Rawayan pimpinan Wilang Sundakalangan.
            Uyeg Merupakan salah satu seni tradisi yang ada di daerah Sukabumi khususnya di daerah selatan yaitu di pesisir pantai pelabuhan ratu, kesenian teater rakyat ini sudah bisa di katakana puanah karena kesenian ini sudah lama sekali tidak dipertunjukan di Sukabumi ataupun daerah lainnya apalagi sepeninggalnya pak Anis Djati Sunda yang berhasil merevtalisasi seni teater rakyat ini hampir tidak ada lagi kelompik kesenian di Sukabumi  yang berinisiatif untuk mempertunjukan seni teater rakyat ini, menurut Wilang Sundakalangan kesenian teater rakyat ini sudah ada sejak masa kerajaan Sunda (Abad Ke 7 sampai 14) ketika itu digelar sebagai bagian dari ritual seren taun (Pesta panen) untuk menghormati Dewi Sri dan Guru Bumi namun terakhir kesenian ini ditampilkan pada tahun 1990 setelah Anis melakukan pengumpulan data pada orang-orang yang mau melestarikan Uyeg dari tahun  1978-1981, dari informasi yang diperoleh pada tahun 1854 sempat dipentaskan oleh ayah Akung dari generasi pertama yang mencoba mengangkat kesenian Uyeg, lalu oleh abah Ita sebagai generasi keempat sekitar tahun 1957-1960 yang mulai mengangkatnya kembali, sejak oleh ayah Akung sekitar tahun 1884 kesenian ini sudah berada di Sukabumi tapi mulai dicanangkan sebagai kesenian khas Sukabumi baru tahun 1981 oleh Anis Djatisunda
            Berdasarkan Hipotesis Anis Djati Sunda seni Teater Rakyat Uyeg merupakan satu bentuk teater rakyat Jawa Barat yang masih memiliki ciri-ciri dari pola struktur budaya nusantara yang mewarnai lambang tradisi megalitik, terbukti dengan masih digunakannya warna hitam dan putih pada kain yang disebut kelir, kain hitam putih ini merupakan simbol alam yaitu gambaran krisna-paksa (Hitam) dan Sukhla-Paksa (Putih) yakni terkait dengan alam yang memiliki dua unsur yang berbeda, bumi langit, atas bawah, laki-laki perempuan dan yang lainnya dan kata Uyeg memiliki filosofi bahwa Uyeg bersinonin dengan kata Oyag artina bergerak pada visualisasi pertunjuknnya kain kelir senantiasa digerak-gerakan saat pertunjukan sebagai simbol bahwa hidup itu terus bergerak, dinamis tidak setatis seperti pemikiran manusia.
            Anis Djatisunda sebagai tokoh yang berhasil merevitalisasi Uyeg Anis mencoba menyandingkan kesakralan seni teater rakyat ini dengan kemajuan teater modren, Anis memasukan dramaturgi barat dalam konsep pertunjuknnya, seperti tangga dramatik, dan tata artistis serta tata cahaya, namun semua itu memiliki batasan agar tidak merusak konsep sakral dari Uyeg itu sendiri. Seperti dalam naskah Uyeg yang Anis tulis inti cerita dari naskah ini adalahsadarnya dua orang jagoan yang juga penjahat setelah diberi nasihat oleh siluman dalam proses penampilannya banyak diselangi adegan humor.
            Bentuk pertunuukan Uyeg pada dasarnya mirip dengan pertunjukan seni teater rakyat Jawa Barat lainnya seperti longser, pada awal pertunjukan sekelompok nayaga mengawali pertunjukan dengan tetabuhan bedug dengan bunyi lambat yang semakin lama menjadi semakin cepat, bunyi-bunyi tersebut disusul dengan bunyi kendang dan alat gamelan lainnya serta bunyi teropet yang semakin memeriahkan suasana, seiring suara gamelan yang cepat sehelai kain yang berwarna hitam dan putih sebagai backdrop digetarkan, ketika aluanan musik melambat, munculah Raja Uyeg dari balik kelir dengan dandanan seperti raja dalam cerita pewayangan tapi memakai kaca mata hitam dan merokok kemudian raja Uyeg menjadi simbol alam Uyeg dan sang Rajapun memaparkan cerita Uyeg yang akan ditampilkan.
            Seni Teater Uyeg sama dengan teater rakyat yang lainnya perlu penelitian dan pelestarian lebih lanjut demi menambah khazanah kesenian teater di Indonesia, seni teater tradisi bisa menjadi sumber ide gagasan untuk penciptaan seni teater modern yang selama ini kian berkembang, seni teater tradisi memiliki ciri dan jatidiri yang mesti dikaji sehingga bisa dibaca juga pola pikir orang-orang pada masa itu, baik pola pikir berkesianannya atau pola pikir kehidupannya.   




Sunday, November 9, 2014

KESENIAN TOPENG TAMBUN

Tari  Pada Kesenian Topeng Tambun
“Tinjauan terhadap fungsi dan makna Tari Topeng
Pada Kesenian Topeng Grup Candra Baga Tambun Kabupaten Bekasi”.
Oleh
Wisye Dini
(wisye_dini@yahoo.co.id)

Latar Belakang
Topeng Tambun termasuk salah satu topeng Betawi, karena hidupnya di daerah pinggiran Betawi, dalam pertunjukannya terdapat unsur tari, musik, lakon, sastra, dan seni rupa. Menurut  Martaseli (79) kesenian topeng Tambun berasal dari Topeng Cisalak (Depok), yang diciptakan oleh Djiun dan Mak Kinang yang dalam penyajiannya terdapat pemakian kedok putih, kuning dan jingga. Dari kesenian topeng ini kemudian terlahir topeng Blantek yang diciptakan oleh Naim anak pertama Djiun yang meniru dari kesenian topeng Cisalak. Istilah  blantek berasal dari kata blantakan yang artinya tidak berarturan. Kemudian Topeng topek Cisalak ini berkembang ke daerah lainnya, termasuk ke daerah Tambun Kabupaten Bekasi.
Seperti kesenian topeng Cisalak, dalam pertunjukan kesenian topeng Tambun senantiasa mepertunjukan tari yang dikenal dengan tari topeng. Menurut Pigeaud kata “topeng” berarti kedok yang menutupi seluruh wajah seseorang (Pigeaud). Tetapi dalam pertunjukan topeng di daerah pinggiran Betawi tidak semua tokoh-tokohnya memakai topeng, malah lebih banyak yang tidak memakai topeng, berbeda dengan topeng Cirebon yang penarinya memakai topeng. Dalam topeng Betawi yang memakai topeng adalah Topeng Tunggal (tari topeng yang memakai tiga kedok berwarna putih, kuning dan jingga) dan tokoh Jantuk. Menurut Marta Seli kata topeng digunakan untuk menyebut ronggeng topeng atau penari topeng, dan untuk menyebut pergelaran topeng secara keseluruhan.
Pada pertunjukan saat ini, secara garis besar struktur pertunjukan terdiri dari tatalu (muisk pembukaan, pertunjukan tari dan sandiwara atau penyajian cerita. Menurut Marta masyarakat Bekasi menyukai tariannya dari pada sandiwaranya, indikatornya setelah pertunjukan tari, banyak penonton yang meninggalkan tempat pertunjukan.
Dalam pertunjukan topeng terdapat beberapa tarian, tariannya ada yang tradisi ada yang kreasi baru. Yang tradisi antara lain Lipet Gandes (tari ronggeng dan bodor) dan Topeng Tunggal, sedangkan yang kreasi baru diantaranya Enjot-enjotan, Kang Aji, dan  Blantek. Tari-tarian tersebut kini telah dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah SD, dan SMP.
Sebagaimana disebutkan di atas, tari topeng cenderung lebih diminati oleh masyarakat, mengapa tarian topeng lebih digemari dari pada pertunjukan sandiwaranya? Bagaimana fungsi dan maknanya ?, merupakan masalah yang perlu jawabanya.
Rumusan Masalah
Pokok permasalahan yang kan dibahas difokuskan pada kondisi pertunjukan topeng pada saat ini . Untuk membahasnya akan menggunakan berbagai disiplin ilmu seperti antropologi, sosiologi, estetika, semiotika dan sumber-sumber lainnya yang kiranya dapat menunjang tulisan ini. Permasalahan penelitian ini akan di rumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian,     sebagai berikut;
Mengapa penyajian tari lebih disukai dari pada pertunjukan sandiwaranya?
Bagaimana fungsi dan maknanya?

Tujuan Dan Manfaat
Pada intinya tujuan dan manfaat penelitian ini untuk menjawab pokok permasalahan guna memperoleh gambaran yang tekait dengan peristiwa pertunjukan topeng Tambun dan ingin menggali guna memperoleh gambaran pertunjukan topeng saat ini, fungsi, makna, nilai  yang terdapat dalam kesenian topeng. Selain itu, dengan penelitian ini dapat memberikan informasi dan edukasi bagi aktivis seni, pemerhati seni, pemerintah, masyarakat serta insan akademis dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisi

Landasan Teori
Untuk mengkaji persoalan fungsi, penulis akan memakai teori fungsi Curt Sachs dalam bukunya History of the Dance (1963:5) mengutarakan, bahwa ada 2 fungsi utama dari tari yaitu 1) untuk tujuan magis 2) untuk tontonan. Gertrude Prokosch Kurath dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Panorama of Dance Ethnology”, secara rinci mengutarakan ada 14 fungsi dari tari dalam kehidupan, yaitu 1) inisiasi kedewasaan 2) percintaan 3)persahabatan 4)perkawinan 5)pekerjaan 6)pertanian 7)perbintangan 8)perburuan 9)menirukan binatang 10)menirukan perang 11) penyembuhan 12) kematian 13)kerasukan 14) lawakan
fungsi seni pertunjukan menjadi dua kategori, yaitu kategori fungsi—fungsi primer dan kategori fungsi sekunder.
Setiap zaman, setiap kelompok etnis, serta setiap lingkungan masyarakat, mempunyai berbagai bentuk seni pertunjukan yang memiliki fungsi primer dan sekunder yang berbeda. Pembagian fungsi primer menjadi tiga berdasarkan atas siapa”yang menjadi penikmat seni pertunjukan itu. Hal ini penting kita perhatikan, sebab seni pertunjukan disebut sebagai seni pertunjukan karena dipertunjukkan bagi penikmat. Bila penikmatnya adalah kekuatan-kekuatan yang tak kasat mata seperti misanya para dewa atau roh nenek moyang, maka Seni pertunjukan berfungsi sebagai sarana ritual. Apabila penikmatnya adalah pelakunya sendiri seperti misalnya seorang pengibing pada pertunjukan tayub, ketuk tilu, topéng banjét, dogér kontrak,kliningrm bajidomn, dan discoteque (diskotik), seni pertunjukan berfungsi sebagai sarana hiburan pribadi. ]ika penikmat seni pertunjukan itu adalah penonton yang kebanyakan harus membayar, seni pertunjukan itu berfungsi sebagai presentasi estetis. Dengan demikian secara garis besar seni pertunjukan memiliki tiga fungsi primer, yaitu (1) sebagai sarana ritual; (2) sebagai ungkapan pribadi yang pada umumnya berupa hiburan pribadi;dan (3) sebagai presentasi estetis. Di lingkungan masyarakat Indonesia yang masih sangat kental nilai—nilai kehidupan agrarisnya, sebagian besar Seni pertunjukannya memiliki fungsi ritual. Fungsi—fungsi ritual itu bukan saja berkenaan dengan peristiwa daur hidup yang dianggap penting seperti misalnya kelahiran, potong gigi, potong rambut yang pertama, turun tanah, khitan, pernikahan, serta kematian; berbagai kegiatan yang dianggap penting juga memerlukan seni pertunjukan, seperti misalnya berburu, menanam-padi, panen, bahkan sampai pula persiapan untuk perang. Pada pertunjukan untuk kepentingan ritual ini penikmatnya adalah para penguasa dunia atas serta bawah, sedafigkan manusia sendiri sebagai penyelenggara lebih mementingkan tujuan dari upacara itu daripada menikmati bentuknya. Seni pertunjukan semacam ini bukan disajikan untuk dinikmati oleh manusia, tetapi justru harus mereka libati  (Soedarsono, 1985: 5-22).
Fungsi primer yang kedua yaitu sebagai ungkapan atau hiburan pribadi.Keterlibatan penikmat sama dengan fungsi pertama. Seni pertunjukan jenis ini penikmatnya harus melibatkan diri dalam pertunjukan itu. Biasanya di Indonesia bentuk pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan pribadi disajikan oleh penari wanita, dan yang ingin mendapatkan hiburan adalah pria yang bisa menaribersama penari wanita tersebut. Di Jawa Tengah bentuk-bentuk  pertunjukan seperti ini terkenal dengan nama tayuban dan lénggéran. Di Iawa Timur terdapat gandrung. Di Bali lazim disebut jogét. Di Sumatera terdapat ronggéng Malaya. Di Jawa Barat banyak sekali bentuknya, antara lain ketuk tilu, longsér,topéng banjét, brmgréng, rmiggéng gunung, dan yang paling mutakhir adalah jaipongan dan kliningan bajidoran atau kliningan jaipongan. Pria yang ingin rnenikmati 1enggak—1enggok penari wanita yang pada umumnya disebut ronggéng atau telédék (lédék) atau sindén—tatandakan serta lantunan nyanyiannya, harus meiibatkan diri dalam pertunjukan ini dan menari bersama penari wanita itu. Oleh karena itu jenis seni pertunjukan ini juga bisa dikategorikan sebagai seni yang dilibati (art of participation). Oleh karena pertunjukan ini hanya dinikmati sendiri oleh pelakunya, bentuk ungkapan estetisnya tidaklah penting.Biasanya asal penari pria itu bisa mengikuti irama musik yang mengiringi pertunjukan itu,ia sudah puas. Setiap penari pria yang menari bersama penari wanita yang menghiburnya memiliki gaya penampilan sendiri-sendiri 
Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai penyajian estetis memerlukan penggarapan yang sangat serius dan kadang kadang juga rumit, oleh karena penikmatyang pada umumnya membeli karcis, menuntut sajian pertunjukan yang baik. Di Indonesia seni pertunjukan sebagai penyajian estetis mulai muncul pada akhir abad ke-19, ketika di beberapa wilayah tumbuh kota-kota yang para penghuninya dalam hidup mereka tidak tergantung pada pertanian. Mereka itu adalah para karyawan pemerintah, para pengusaha, para karyawan perusahaan, para guru sekolah, para pemilik toko, para bankir, serta para pedagang. Sebagai makhluk yang rnerniliki aesthetic behavior atau perilaku estetis yang secara naluriah ingin menikmati sajian—sajian estetis, rnasyarakat kota atau urban itu memerlukan bentuk-bentuk pertunjukan yang menghibur, yang bisa dinikmati dengan membeli karcis kapan saja dan di mana saja. (Tati Narawati, Soedarsono, 2002: 199-215).
Seangkan  untuk membahasa persoalan makna akan menggunakan teoi makna Menurut Marcel Danesi dalam bukunya Pesan, Tanda dan Makna, kata makna yang dalam bahasa Inggris disebut meaning adalah konsep bahwa segala yang eksis memiliki maksud atau tujuan di luar keberadaannya semata.(Marcel Danesi, 2004 : 373). Menurut Purbo Hadiwidjoyo MM., dalam bukunya yang berjudul Kata dan makna, dalam ilmu bahasa terdapat tujuh jenis makna, Pertama makna beranggitan (conceptual meaning). Ini tak lain ialah makna yang masuk akal, yang menunjuk kepada apa yang sebenarnya dimaksudkan. Makna itulah yang membuat kita mampu berkemunikasi. Kedua istilah makna menali (associative meaning).  Jenis ini kemudian dapat dibagi lagi ke dalam makna bernilai rasa (conatative meaning), makna kelompok (sosial meaning), makna tersantir (reflected meaning), makna kenaan (affective meaning) dan akhirnya, makna sepemanggil (collocative meaning). Makna yang bersifat rasa dapat juga disebut ujung terbuka.  Pada hakikatnya, ini sama saja dengan pengetahuan kita mengenai alam semesta yang berujung terbuka. Makna kelompok dan makna kenaan menyangkut dua segi dalam kita berkomunikasi. Makna kelompok menyampaikan kepada pihak penerima pesan ihwal lingkungan kelompok kita. Makna kenaan digunakan untuk menyatakan persaan kita. Makna tersantir dan makna sepemanggil bersangkutpautan dengan kata atau kosakata yang digunakan dalam berbahasa. Makna bertema (thematic meaning) adalah makna yang dgigunakan dalam mengkomunikasikan pesan. (Purbo Hadiwidjoyo MM., 2012 : 29-30).

Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, metode ini disebut juga metode artistic, karena proses penelitian  lebih bersifat seni dan disebut juga metode metode interpretative karena data dari hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpreatsi terhadap data yang ditemukan di lapangan. (Sugiyono, 2012 : 7-8).
 Penelitian ini dilakuakan melalui beberapa tahapan yaitu ; persiapan, penelitian lapangan,pengolahan data, sutdi pustaka, dan penyusunan laporan.  Langkah-langkah strstegis yang dilakukan sebagai berikut :
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi, wawancara, observasi, studi kepustakaan dan studi dokumentasi.
2.   Observasi Atau Pengamatan
Agar data terjamin akurasinya, maka dalam penelitian ini melakukan observasi atau pengamatan ke lapangan, dengan menyaksikan pertunjukan dan peristiwa budayanya. Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai data kajian.
3.  Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi pada dasarnya untuk mengumpulkan data-data tertulis termasuk audio visual, seperti  literatur-literatur  baik berupa buku, artikel-artikel dalam jurnal , Koran, majalah CD/VCD,, yang akan dijadikan sumber rujukan. Guna memperoleh data yang valid.
Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisi, dengan langkah kerja di awali dengan pengumpulan data, dilanjutkan dengan reduksi data, verifikasi atau penarikan kesimpulan.


    Pembahasan
    Dugaan sementara
Faktor penyebab tari lebih disenangi, karena aspek tarian lebih dinamis perkembangannya, dari pada sandiwaranya yang cenderung statis, serta secara durasi tarian lebih singkat dan pemainnya pada umumnya wanita belia.
Fungsi sebagai  pelengkap pertunjukan topeng, pertunjukan khusus,  dan hiburan
Makna : Sosial, Budaya , Ekonomi, Estetika dan Pendidikan Nilai-nilai

 Daftar Bacaan.
Danessi Marcel           
2012        Pesan, Tanda & Makna, Yogyaakarta, Jalasutra,
Hadiwidjoyo MM Purbo
2012        Kata dan Makna, , Bandung, ITB
Merriam Alan P. Terjemahan Triyona Nramantyo
1999/2000    Antropologi Musik, judul asli The Antropology Of Musik, Yogyakarta, Institut Seni Indonesia
Narawati Tati, Soedarsono RM
            2005    Tari Sunda Dulu, Kini, Esok, Bandung Past UPI.
Pegeaud
           1938    Pertunjukan Rakyat Jawa Sumbangan Bagi Ilmu Antropologi, terjemahan KRT Muhamad Husodo P., Surakarta, Perpustakaan Rekso Pustaka   

KREATOR SENI SUKABUMI



INOVASI TOTO SEBAGAI KREATOR
DALAM KARYA SENI

PENGANTAR
Homocreator (manusia pencipta) istilah ini dipetik dari Michael Landman yang menekankan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menciptakan “sesuatu” apasaja, termasuk karya seni. Homocreator dapat dianalogikan dengan seorang seniman yang memiliki kemampuan menciptakan menciptakan karya seni sesuai dengan bidang yang dipilih dan ditekuninya.
Mencipta adalah kodrat manusia yang diberikan tuhan untuk menjadikan manusia memiliki eksistensi diri. Eksistensi manusia dapat dicapai dengan kreasi-kreasi manusia pencipta (homocreator). Kreasi-kreasi manusia pencipta (homocreator) itu dapat menjadi sumber studi dan sumber inspirasi manusia setelahnya (kita sekarang).
Seluruh kreasi homocreator adalah sumber studi bagi kreator yang lainnya. Sumber studi adalah bahan riset dengan tindakan (action research). Action research adalah salah satu upaya untuk para kreator  mendekati sumber studinya. Proses pendekatan ini dapat dilakukan melalui apresiasi karya-karya seni di manapun (museum-pameran-pertunjukan dll).
Apresiasi adalah kewajiban yang melekat bagi para kreator  yang ingin memperkaya diri dengan wawasan penciptaan seni. Semakin banyak melakukan apresiasi dapat dipastikan akan memiliki pengalaman estetik (aesthetic experience) yang memperkaya batin anda. Salah satunya adalah anda menjadi manusia open mind (terbuka), sadar akan kebebasan (fredoom)- dan dapat memiliki kebebasan memilih (freewill). Open mind-freedom-freewill adalah modal seorang homocreator. Apresiasi-pengalaman estetik- kurang banyak gunanya kalau anda tidak melakukan aksi dan kreasi. Aksi (action) adalah tindakan nyata yang dilakukan seorang kreator. Kreasi (creation) adalah hasil kreativitasnya berdasarkan freewill-nya. Kreasi penting pula di apresiasi untuk mendapatkan interaksi dan persepsi dari teman atau orang lain.
Proses kreatif adalah proses yang dilakukan homocreator di dalam proses “menemukan dan menjadikan” karya seni ciptaannya. Proses kreatif mengalami “perjalanan kreatif” termasuk “trial and error” dan masa-masa inkubasi (pengeraman) ide/gagasan-tafsir kreatif dan perwujudan karya.

Tiga langkah yang penting dalam memotret seniman. Mengenali (asal usul-latar belakang kehidupan- latar belakang pendidikan-lingkungan keluarga-lingkungan pergaulan-karya seni yang diapresiasi bahkan yang dijadikan kesukaannya). Memahami (apa yang dilakukannya-kreativitasnya- cara pandangnya-cara kerjanya dll). Menghayati (esensi apa dari karya-karyanya-nilai dibalik bentuk-simbolik-metaforik dll). Mari kita mengenal salah satu seniman sebagai homocreator.

SIAPAKAH TOTO?
Beliau lahir di bandung pada hari kamis tanggal 28 April 1966 dari pasangan ibu D. suhaedah seorang ibu rumah tangga yang baik dan Wira Karim seorang polri. Toto adalah anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Entah dari mana aliran darah seni yang ada pada dirinya, karena kedua orang tuanya bukan orang yang bergelut di bidang seni, apalagi seni tari. Darah seni, terutama seni tari, beliau dapati setelah masuk SMKI Bandung itupun arahan guru seninya waktu di SMP ketahuan setelah ada uji praktek kesenian.
Keahlian menari terbentuk setelah masuk SMKI Bandung pada tahun 1983, oleh proses yang intens dibawah bimbingan guru seni tari SMKI pada Waktu itu. Disamping belajar menari beliau juga belajar seni karawitan yang memang merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh jurusan tari. Selain karawitan beliau juga rajin mempelajari seni musik meskipun secara otodidak, dan bisa memainkan sebagian alat musik meskipun tidak begitu mahir karena baik karawitan ataupun musik dua elemen ini tidak bisa dipisahkan dari seni tari. Karawitan (gending) atau musik merupakan unsur penting dalam seni tari.
Tidak hanya mempelajari kepenarian saja beliau juga belajar bagaimana cara menata sebuah gerakan yang disusun menjadi sebuah tarian itulah pelajaran koreografi. Pelajaran inilah yang beliau favoritkan selama mengikuti pembelajaran di sekolah itu. Setiap ada tugas baik harian maupun ujian semester beliau kerjakan dengan rajin dan ulet dengan bakat kreativitas yang dia miliki, alhasil beliau selalu mendapat nilai yang terbaik diantara teman sekelasnya. Beasiswapun beliau raih di SMKI selama 4 tahun karena pada waktu itu kurikulum khusus untuk SMKI ditempuh dalam waktu 4 tahun.
Tahun 1987 beliau lulus dari SMKI dan melanjutkan ke UPI (IKIP pada waktu itu) di Bandung juga dengan mengambil jurusan yang sama pada waktu di SMKI yaitu seni tari D2 karena pada waktu itu belum dibuka D3 apalagi S1. Sama halnya di SMKI di IKIP pun beliau rajin dan ulet dalam melaksanakan tugas sebagai mahasiswa, dikarenakan datang dari keluarga yang kurang mampu mungkin itu alasannya. Sehingga berusaha untuk menuntut ilmu dengan baik supaya berhasil. Di IKIP pun nilai cukup baik dan selalu teratas diantara teman temannya. Pada semester 4 beliau mendapat nilai yang cukup memuaskan dengan IP 3.9.
Pada tahun 1989 beliau lulus. Tidak lama kemudian langsung ditugaskan di sekolah terpencil wilayah kabupaten sukabumi yaitu SMPN Parungkuda. Sejak saat itulah dirinya diabdikan pada sekolah itu dengan konsentrasi mata pelajaran kesenian.

PANDANGAN TOTO TERHADAP KESENIAN LOKAL
Setiap daerah tentunya mempunyai kekayaan seni dan budaya dengan ciri dan khas masing masing. Termasuk sukabumi, wilayah inipun mempunyai banyak keaneka ragaman jenis kesenian daerah dengan ciri khas tersendiri. ada jenis seni tari, karawitan bahkan teater rakyat. Nama dan tempatnya tersebar di seluruh wilayah sukabumi. Informasi ini beliau dapat dari seorang pakar seni bahkan budayawan jawa barat yakni Bp. Anis Djatisunda (alm).
Teater Uyeg, gekbreng, jipeng, gondang buhun, rengkong, lais, debus, cepet, parebut seeng, dogdog lojor merupakan sebagian kekayaan seni khas Sukabumi. Setelah mendapatkan informasi tentang semua kesenian yang telah didapat dari Bp. Anis Djatisunda beliau terpanggil untuk mengamati dan mempelajarinya. Meskipun tugas utama beliau adalah mengajar di SMP tapi beliaupun menyempatkan dan menyisihkan waktu untuk mengamati dan mempelajari seni yang ada di sukabumi, karena jiwa dan darah seni nya tertuju dan lebih condong pada seni daerah. Akhirnya beliaupun bergabung dengan sanggar seni yang dipimpin oleh Bp. Anis Djatisunda sejak tahun 1990, pada awal beliau ditempatkan.
Setelah menyimak dan mengamati aneka seni khas sukabumi, pandangan beliau terhadap seni seni tersebut perlu adanya konservasi (pemeliharaan) dengan berbagai kekhasan dan keunikannya harus  tetap dipelihara dan dijaga sebagai aset warisan dan peninggalan para seniman dan budayaan terdahulu. Revitalisasi (menghidupkan kembali) sangat disayangkan apabila seni seni tersebut sampai dilupakan, ditinggalkan, bahkan musnah sama sekali, maka perlu adanya penghidupan kembali seni tersebut. Pengenalan dan pergelaran pergelaran adalah salah satu cara untuk melakukan revitalisasi terhadap seni yang terlupakan dan hampir punah. Pandangan beliau terhadap seni seni tersebut perlu dilakukan langkah selanjutnya yakni dengan cara inovasi (pembaruan/memasukan hal hal yang baru) supaya lebih variatif dan diharapkan lebih disukai dan diminati. Dengan melakukan langkah langkah tersebut terhadap seni seni yang ada di sukabumi karena beliau memandang seni tersebut masih terlihat monoton baik dalam unsur koreografi (apabila itu seni tari) maupun unsur gending/karawitan. Karena apabila dibandingkan dengan seni seni yang marak saat ini sangat terseret sekali. Para pelaku seni lokal daerah setempat kebanyakan para orang tua, dengan kostum dan makeup yang seadanya sehingga daya tarik sangat kurang sekali khususnya dari anak anak muda. Makanya mereka lebih cenderung menyukai, mempelajaring bahkan mempraktekannya sampai pada mempergelarkannya. karena mereka memandang seni yang mereka katakan modern adalah gerakan dan musik yang dinamis dengan kostum yang glamaour dan makeup yang menor menor.
UPAYA INOVASI TOTO TERHADAP KESENIAN LOKAL

Dari sekian banyak jenis kesenian tersebar di sukabumi, ada beberapa yang menarik perhatian beliau untuk di pelajari dan berniat untuk berinovasi terhadap seni tersebut. Jenis kesenian tersebut yakni :
Seni Cepet
Cepet  merupakan kesenian yang berfungsi sebagai upacara pesta rakyat di daerah Ciracap Kabupaten Sukabumi. Cepet adalah kedok/topeng istilah di Ciracap. Unsur utamanya adalah gerak, jadi cepet ini masuk katagori seni tari dengan memakai kedok/topeng dengan diakhiri kesurupan/kemasukan roh dari para penarinya. Beliau mencoba untuk berinovasi terhadap cepet ini. Bukan berinovasi lagi malah beliau membuat baru dengan meminjam istilah cepet. Teater rakyatlah yang beliau buat dalam mengangkat nama seni cepet tersebut. Pada awalnya seni cepet ini berfungsi sebagai upacara pesta rakyat beliau angkat menjadi pertunjukan teater rakyat. Yang mulanya baik koreografi dan tataan gending yang monoton. Beliau garap dengan koreografi serta tataan gending yang kekinian dengan dikemas dalam cerita yang kekinian juga. Teater rakyat cepet garapan barunya hasil berinovasi dari seni khas lokal itu telah dua kali di pentaskan. Pada tahun 2002 dipentaskan di Taman Budaya Bandung dalam even pergelaran seni daerah dan pada tahun 2003 dipentaskan di Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah. Selain dikemas dalam teater rakyat, seni cepet beliau juga mencoba mengemasnya dalam seni bentuk seni helaran dan telah di pentaskan dalam festival seni helaran Jawa Barat di Cianjur serta pada Kemilau Nusantara di Bandung.
Seni Parebut Seeng
Seni parebut seeng ini sama halnya dengan seni cepet yakni berfungsi sebagai upacara. Kalau Seni cepet digunakan untuk upacara pesta rakyat, kalau Seni Parebut Seeng digunakan atau di gelar pada upacara pernikahan. Upacara parebut seeng ini lebih cenderung pada gerak penca silat yang dilakukan oleh dua orang jawara dengan kostum pangsi. Keminiman gerak dan kostum inilah yang menarik beliau untuk mengadakan inovasi bahkan penciptaan baru dari akar tradisi parebut seeng. Beliau berinovasi dan mengangkat seni ini, yang aslinya berfungsi untuk upacara pernikahan dikemas menjadi seni pertunjukan menjadi Tari Parebut Seeng. Tari parebut seeng yang beliau ciptakan koreografinya lebih condong kepada tari rakyat namun benang merah nya yakni pencak silat masih tetap ada. Ditambah dengan unsur penambahan penari perempuan sebagai daya tariknya dengan kostum yang glamor .  Hasil kemasan dan inovasi belaiau ini digelar pada acara festival tari tradisional Jawa Barat Di Anjungan Jawa Barat pada tahun 1994 dan berhasil meraih juara umum. Setahun kemudian yakni pada tahun 1995 tari parebut seeng ini menjadi wakil Jawa Barat pada parade tari Nusantara dan mendapat 12 penyaji terbaik. Selain itu Tari Parebut seeng ini menjadi salah satu aset baru kekayaan sukabumi dan sering dipentaskan dalam berbagai acara termasuk pada acara pemerintahan Kabupaten Sukabumi. Tari parebut Seeng ini juga sudah di Pentaskan di Taman Budaya pada pergelaran seni daerah.
Seni Dogdog Lojor
Jenis seni ini merupakan salah satu kekayaan Sukabumi yang sudah dikenal masyarakat baik di Wilayah Sukabumi sendiri maupun Jawa Barat. Karena seni ini erat sekali dengan upacara terkenal yang diadakan di kasepuhan Cipta Gelar yang termasuk salah satu bagian kampung adat Suku Baduy. Seni ini digelar dalam upacara Seren Tahun. Dengan demikian seni ini mempunyai fungsi untuk upacara. Dogdog lojor adalah  salah satu jenis kesenian dengan menggunakan angklung buncis dan dogdog (sejenis bedug kecil) sebagai alat musiknya yang dipakai  pada upacara seren tahun untuk mengarak padi dari lantaian ke lumbung padi. Upacara seren tahun ini bukan hanya dogdog lojor saja didalamnya ada jenis kesenian yang namanya Rengkong. Sehingga upacara tersebut lebih semarak dan meriah. Beliau tertarik juga dengan seni yang satu ini. Dengan meminjam alat yang namanya dogdog lojor beliau berinovasi dan mengangkat seni tersebut. Kesenian dogdog lojor ini beliau pandang sebagai kesenian yang khas dan unik namun masih ada kekurangan nya tetap pada tampilan kostum dan minimnya gerakan/koreografi sehingga berkesan monoton. Sama halnya dengan seni parebut seeng, seni dogdog lojor yang awalnya berfungsi upacara dikemas menjadi bentuk pertunjukan dengan mengambil seni tari sebagai mediumnya maka terciptalah Tari dogdog Lojor. Hasil ciptaan, dan kemasan beliau sangat berbeda sekali dengan aslinya baik iringan, koreografi bahkan kostum yang glamor disesuaikan dengan karakter tari yang dibawakan dengan tema humoris. Tarian ini diikut sertakan dalam festival tari tradisional jawa barat di anjungan Jawa Barat Taman Mini Indinesia Indah pada tahun 1996. Sama halnya dengan tari parebut seeng tari dogdog lojor pun mendapat juara umum dan menjadi wakil pada parade tari nusantara dan meraih 5 penyaji terbaik pada tahun itu pula. Beda dengan teater rakyat cepet dan tari parebut seeng, tari dogdog lojor ini lebih disukai dan diminati oleh berbagai kalangan dari mulai anak anak sampai orangtua. Ada beberapa sekolah di Sukabumi yang mempelajari bahkan menjadi materi pelajaran mulok seni tari yang menjadikan Tari Dogdog Lojor ini sebagai materi pelajaran. Bukan hanya di wilayah sukabumi saja, di luar Sukabumipun banyak yang mempelajari dan menggelarkannya. Bahkan tari Dogdog Lojor ini sudah diadopsi dan di pelajari bahkan digelarkan oleh mahasiswa Oklahoma Univercity di Oklahoma Amerika Serikat.

Itulah sebagian jenis kesenian yang telah beliau kemas hasil mencipta dan berinovasi pada seni seni yang ada di Sukabumi  tempat tinggal beliau yang baru. Bila beliau pandang masih banyak seni seni yang perlu untuk diinovasi.

HASIL KARYA CIPTA TOTO SEBAGAI HOMOCREATOR
Proses  kreatif yang telah Toto lakukan sebagai homocreator telah banyak menghasilkan karya dalam bentuk seni tari dan teater diantaranya:
Tahun 1991 seni helaran dengan judul Parebut seeng
Tahun 1994 seni helaran dengan judul dogdog lojor ngarak penyu
Tahun 1994 seni kabaret ( gabungan seni tari, degung, vokal grup, bercerita) mendapat juara umum tingkat profinsi Jawa Barat
Tahun 1995 seni tari yang berjudul Dewi Samudra meraih 10 penyaji terbaik pada festival tari tradisi Jawa Barat di teater tertutup Taman Budaya Bandung
Tahun 1999 Drama siti samboja pada apresiasi seni pelajar dan guru seni dan bahasa kab Sukabumi
Tahun  2001 Oratorium perang bojong kokosan Kodam III Siliwangi
Tahun 2002 Teater rakyat cepet
Tahun 2003 Teater rakyat kimin kuda lumping
Tahun 2004 Dramatari Damarwulan Kencana Wungu
Tahun 2004 Tari Parebut Seeng (Juara Umum Tari Kreasi Jawa Barat TMII)
Tahun 2005 Dramatari Puun purnama sari
Tahun 2006 Dramatari Rebutan cai
Tahun 2006 Tari pudak arum
Tahun 2006 Tari dogdog lojor (Juara Umum Tari Kreasi Jawa Barat TMII)
Tahun 2007 Oratorium Petaka membawa hikmah
Tahun 2007 Teater Hanoman duta
Tahun 2007 Teater rakyat lisung karamat
Tahun 2008 Tari pakujajar ( Juara 2 Tari Kreasi Jawa Barat se Jawa Barat TMII)
Tahun 2008 Tari nyiru
Tahun 2008 Tari kadita
Tahun 2010 Tari budak buruan (Juara 1 Jawa Barat Fls2n SMP)
Tahun 2010 Gekbreng hareudang
Tahun 2011 Tari rakean kalang sunda (juara Jawa Barat dan nasional Fls2n SMP)
Tahun 2012 Drama pakujajar di gunung parang
Tahun 2012 Drama perang bajo di palabuhanratu (Juara 1 Jawa Barat dan Nasional Fls2n SMA)
Tahun 2012 Drama gugurnya rahwana (Juara 1 Jawa Barat dan Nasional Fls2n SMA)
Tahun 2012 Tari Prabu Kian Santang (Juara Umum Kemasan Tari Kreasi se Jawa Barat UPI Bandung)
Tahun 2013 Drama perjuangan sang ronggeng (Juara 2 Jawa Barat Fls2n SMA)
Tahun 2013 Tari kumbang bagus setra (Juara 1 Jawa Barat dan Nasional Fls2n SMA)

Tahun 2013 Tari raras pawestri
Tahun 2014 Drama mundinglaya (Juara 2 Jawa Barat Fls2n SMA)
Tahun 2014 Tari nirpataka (Juara 1 Jawa Barat Fls2n SMA)

Itulah sebagian hasil kreatif karya seni Toto sebagai homocreator.


PENUTUP
Aksi kreatif adalah sebuah proses nyata saat homocreator sibuk dengan segala aktivitas membuat berbagai karya yang bermanfaat. Seorang Toto berusaha untuk memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya dengan medium seni tari. Dengan melihat fenomena pada nasib yang menimpa seni tradisional yang terlupakan dan hampir musnah Toto berusaha untuk mencoba melakukan konservasi, merevitalisasi bahkan sampai berinovasi terhadap seni tersebut. Berakhir dengan mencoba berkarya dan mencipta seni baru yang berpijak pada seni tradisi yang terlupakan dan hampir musnah. Hasil nyata dari aktivitas tersebut muncullah berbagai karya baru sebagai aset kekayaan baru bidang seni yang bermanfaat. Bisa disukai, diminati bahkan dinikmati berbagai kalangan. Itulah hasil karya seorang kreator. Hasil inovasi seseorang sebagai homocreator.


                                                                      Bandung, 12 September 2014

                                                                    penulis         

Thursday, August 23, 2012




Pakujajar di Gunung Parang
Ieu carita lumangsung kira-kira dina jaman rugrugna Pajajaran, nya éta nalika Pajajaran diserang ku Cirebon, Demak jeung Banten. Harita Sukabumi tacan katelah Sukabumi. Ieu tempat ayana di tutugan Gunung Gedé jeung Gunung Salak nu katelahna “Papanah Awatan Pagadungan”, nu aya dina pangawasa Pajajaran Tengah, wewengkon Bogor.
Mangsa Pajajaran digempur ku Cirebon, Demak, jeung Banten, daérah Pagadungan ogé teu luput diserang. Puseur Kabupatén Pagadungan ieu kira-kira ayana di daérah Gunung Walat (daérah Cibadak), baheula katelahna “Kadatuan” atawa “Kabupatian” Pamingkis. Nu jadi bupati atawa datu dina mangsa harita nya éta: Ki Ranggah Bitung, sarta bojona Nyi Radén Puntang Mayang.
Kadatuan Ranggah Bitung diserang jeung diduruk ku musuh, nepi ka ludes. Ranggah Bitung perlaya nalika perang ngalawan musuh nepi ka pangimeutan; harita Nyi Radén Puntang Mayang keur kakandungan. Pikeun nyalametkeun Nyai Radén Puntang Mayang, jaro (lurah) Kadatuan nu ngarana Ki Loa Kutud jeung istrina, Nini Tumpay Ranggeuy Ringsang, mawa Nyai Radén Puntang Mayang ngungsi mimiti ka Gunung Bongkok, nu ayana di daérah Cibadak. Didinya meunang katerangan ti Tutung Windu, yén Radén Puntang Mayang kudu di bawa ka Gunung Sunda, nu ayana di daérah Palabuhanratu.
Dumasar kana pituduh Resi Tutug Windu, Nyai Radén Puntang Mayang dibawa ku Ki Jaro. Di tengah lalampahan, kabeneran Ki Jaro panggih jeung saurang budak lalaki nu umurna 6-7 taun. Ditanya timana asalna. Tapi éta budak teu daék nyarita. Teu lila budak téh, yén manehna geus aya di ieu leuweung sabab aya nu mawa nalika kampungna diduruk musuh. Ki Jaro miboga kayakinan, yén ieu budak lain budak samanéa. Satuluyna ieu budak dibawa ngungsi babarengan.
Harita Gunung Sunda masih kénéh leuweung geledegan. Di pangungsian di Gungung Sunda, Ki Jaro ngurus jeung nalingakeun Nyai Radén Puntang Mayang. Nepi ka mangsana Nyai Radén Mayang Puntang ngababarkeun budak awéwé, nu geus gedéna dibéré ngaran Nyai Arum Pundak Saloyang atawa numutkeun versi Sumberwangi nu katelahna Nyai Radén Pundak Arum. (pudak= kembang jaksi; Arum = deungit; pudak arum=kembang jaksi nu seungit).
Budak anu harita meunang panggih di jalan ogé sarua di urus ku Ki Jaro dipikanyaah sakumaha mistina. Sanggeusna gedé éta budak lalaki  dibéré ngaran Wangsa Suta.
Kusabab Nyai Arum Pudak Saloyang jeung Wangsa Suta hirup  jeung digedékeun di tempat anu sarua, atukna aya rasa nu tumuwuh antara duanana. Cindekna ieu jajaka jeung wanoja meungkeut tali asih.
    Sok sanajan tali asih geus dibeungkeut jeung Nyai Pudak Saloyang, Wangsa Suta miboga kahayang pikeun nyuprih pangarti heula. Sanggeusna meunang ijin ti Ki Jaro, Wangsa Suta miang leuleuweungan.
Lalampahan Wangsa Suta ka béh kiduleun Gunung, deukeut daérah Cikembar. Didinya Wangsa Suta panggih jeung saurang Resi, ngarana Saradéa. Sanggeusna ditarima jadi murid. Wangsa Suta diajarkeun élmu pangaweruh, élmu kasaktén, élmu bangunan, élmu perang, jsb.
Resi Saradéa talatah ka Wangsa Suta, yén saméméh Wangsa Suta kawin jeung Nyai Pudak Saloyang, manéhna kudu nyieun heula lembur. Éta lembur ayana di tempat  nu aya tangkal kiara kembar, nya éta ayana di Gunung Parang. Mimitina ngabuka leuweung nya éta kudu ditempat paku jajar ngadahan lima, tempatna déngdék ka béh kidul, di tegal kolé nu dauna wungu jeung rupa kembangna héjo. Sanggeuna éta témpat kapanggih tuluy wangsa Suta muka lahan pilembureun atawa ngababakan di tempat tegal kolé.
Teundeun carita ngeunaan Wangsa Suta, ayeuna urang téang lalampahan Nyi Pundak Saloyang.
Geulisna Nyi Pudak Saloyang kawéntar kamana-mana, tug nepika loba gegedén nu mikahayang pikeun jadi pamajikanana. Hiji mangsa datang utusan ti Demang Sukamukti nu mancén gawé keur ngalamar Nyi Pudak Saloyang pikeun jadi selir. Ki Jaro jeung Nyi Pudak Saloyang teu bisa kukumaha. Saéstuna lamaran téh geus di tolak ku Nyi Pudak Arum, tapi Nyi Pudak Arum dipaksa.
Ngarasa dipaksa, Nyi Pudak Arum teu narima, atukna gelut jeung éta utusan. Nyi Pudak Arum nya éta wanoja anu sakti. Nalika diserang ku utusan tadi, éta keris utusan dipelengkung-pelengkungkeun ku leungeuna malah mah nepi ka rék potong sagala. Nempo kitu, éta utusan ngarasa éra. Tapi atukna Nyi Pudak Arum bisa ditéwak ogé sarta dibawa ka Demang Sukamukti.
Nalika arék malem panganténan, dadakan éta demang tilar dunya, tug nepi ka Nyi Pudak Arum salamet jeung tetep kajaga parawanana. Geulisna Nyi Pudak Arum kadéngé deui ku gegedén beunghar di Padabeunghar. Ieu tempat dingaranan Padabeunghar, meureun baheulana loba baleunghar nu cicingna di éta tempat. Kajadian diluhur ogé lumaku ka ieu gegedén, manéhna tilar dunya saméméh malem panganténan.
Aya deui jalma beunghar nya éta Ki Puru Sastra anu kahasil migarwa Nyi Pudak Arum, tapi saméméh panganténan, ieu Ki Puru Sastra dadakan tilar dunya.
Geus kitu, ieu béja ngeunaan NyiPudak Arum kadéngé ku saurang haji di Centayang, nya éta Haji Ijamalil. Manéhna miboga pamajikan kurang leuwih aya kana 20 urangna. Dina danget harita manéhna geus jadi haji, sabab geus asup Islam. Nalika Haji Ijamal’al rék ngalamar Nyi Pudak Arum,di tengah jalan manéhna kasamer gelap tug nepi ka tilar dunyana.
Kitu jeung kitu wé satuluyna, unggal lalaki nu hayang mikagarwa Nyi Pudak Arum tangtu tilar dunya saméméh malem panganténan. Hiji mangsa ieu warta ngeunaan Nyi Pudak Arum kadéngé ku demang Kartala, inyana nya éta demang ti Mangkalaya nu ayana di daérah Ciaat Sukabumi. Radén Kartala miboga penasehat, nya éta urang jawa nu ngarana Sakatana. Ngadéngé aya wanoja nu mawa cilaka, Sakatana cumarita “ Leuwih hadé ieu awéwé urang paéhan waé”.
Ceuk Kartala “keun waé, urang pasrahkeun waé ka Sultan Demak”.
“ Lamun ku urang dibaktikeun ka Sultan Demak, pasti urang Demak bakal nyiduhan urang,” ceuk Katana.
Singkat carita Nyi Pudak Arum beunang tug nepi ka leungeuna diborogod, maksudna ieu Nyi Pudak Arum téh arék dipaéhan kucara dipengal. Teundeun ieu carita, ayeuna urang sampeur lalampahan Wangsa Suta.
Harita Wangsa Suta keur ngabukbak lahan (ngababakan) pikeun nyieun lembur di Gunung Parang. Dina hiji waktu nalika Wangsa Suta keur saré, dadakan manéhna ngarasa teu genah haté jeung pikiran. Tuluy manéhna ka luar, miang lumampah tug nepi ka anjog ka daérah Cisaat. Kabeneran Nyi Pudak Arum harita téh arék dipengal beuheunna kalayan paréntah Demang Mangkalaya. Nalika bedog rék nepi kana beuheungna Nyi Pudak Arum, gancang Wangsa Suta nyalametkeun bari ngaharéwos, “Dagoan di Gunung Parang, dihandapeun tangkal pakujajar nu miboga lima dahan. Didinya aya tempat nu keur dibabakan ku kuring. Dagoan didinya.”
Sanggeusna Wangsa Suta ngaharéwos kitu. Manéhna ngadu jajatén jeung salah saurang algojo. Nalika keur ngadu jajatén kitu, manéhna teu apal yén Nyi Pudak Arum téh ditéwak deui ku lagojo séjén. Nyi Pudak Arum diborogod tuluy diasupkeun kana karung, tuluy luhurna dibeungkeut sangkan teu kabur. Sanggeusna dikarungan, éta Nyi Pudak Arum dibawa ka Pulau Putri nu ayana di teluk Jakarta.
Nalika Wangsa Suta ngadu jajatén, inyana miboga sangkaan yén Nyi Pudak Arum téh geus nepi ka Gunung Parang. Sanggeuna ngéléhkeun éta algojo, geuwat Wangsa Suta ngajugjug ka Gunung Parang, saggeusna nepi, gening Nyi Pudak Arum teu nyampak di ieu tempat. Ninggali kitu, kapaksa Wangsa Suta nyauran Resi Saradéa nu jadi guruna. Sabenerna, sanggeusna Wangsa Suta miang ka Gunung Parang. Resi Saradéa pindah ka Gunung Arca nu ayana di deukeut Pasir Pendil, di kiduleun daérah Cijangkar.
Teu lila sanggeuna di samat, ieu Resi Saradéa datang. Manéhna cumarita “Wangsa Suta, lain dina jaman ayeuna, hidep kudu ngahiji jeung Nyi Pudak Arum tapi dina jaman séjén, saupama geus nepi kana ugana. Tapi hidep kudu ngadagoan nepi ka ugana datang, lamun saupama Gunung Parang geus pinuh ku imah sarta saupama Tegal Kolé geus jadi kota. Dina éta mangsa bakal aya wanoja nu nungtun masarakat nu keur katalangsara sabari gagedékeun haté wanoja nu ka nyenyerian ku salakina. Tah éta wanoja titisan Nyi Pudak Arum sarta éta mangsana hidep bisa ngahiji jeung  manéhna.”
Dina legénda Sukabumi, Wangsa Suta nu munggaran ngababakan Tegal Kolé tug nepi ka loba jalma nu bubuara ka ieu tempat. Satuluyna  nyarieun imah di ieu patempatan tug nepi ka jadi kotana. Wangsa Suta tetep ngadagoan, sabab kitu pokna ceuk Resi Saradéa “ yén ieu tempat bakal dibéré ngaran : resep cicing di imah (Sukabumi)”. 
                   (Anis Djati Sunda)

Tuesday, July 24, 2012


Tari Satriyo Selarong dari Yogyakarta Juara Umum 

Parade Tari Nusantara 2012

Tari Satriyo Selarong dari Yogyakarta Juara Umum Parade Tari Nusantara 2012Tari Satriyo Selarong dari Yogyakarta Juara Umum Parade Tari Nusantara 2012Tari Satriyo Selarong dari Yogyakarta Juara Umum Parade Tari Nusantara 2012" Tari "Satriyo Selarong" yang dipentaskan kontingen Bantul dalam seleksi menuju Parade Tari Nusantara pada awal Juni yang lalu."

Peliput dan  penulis: Wuri Hastuti: pesinden pengrawit gamelan tari Satriyo Selarong

Jogjanews.com - Yogyakarta dengan judul tari “Satriyo Selarong” dengan penata tari Tri Anggoro Mahasiswa ISI Yogyakarta kelahiran Bantul 22 Mei 1990, telah berhasil memboyongdelapan piala dalam kejuaraan Parade Tari Nusantara 2012 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta pada Minggu, (15/7).

Parade Tari Nusantara 2012 merupakan agenda yang diselenggarakan secara berkelanjutan dan berlangsung sejak tahun 1982.  Parade Tari Nusantara sebagai ajang kompetisi sebuah karya tari garap baru yang berpijak pada seni tradisi, yang bersifat Istana maupun kerakyatan.

Delapan piala yang diraih kontingen Yogyakarta adalah kategori Juara Umum (Piala Bergilir), Penyaji Terbaik, Penyaji Unggulan, Penyaji Terbaik se- Jawa-Bali, Penata Tari Unggulan, Penata Tari Terbaik, Penata Musik Unggulan serta Penata Rias dan Busana Unggulan.

Penata iringan adalah Kusryan Sandro Hano, adapun tujuh penarinya adalah Hendy Hardiawan, Dika Aji Prasetya, Gunardi Saklarono, Otong Pheloe Rangga, Kendil Handi Dandito, Inung Choky Nugroho, Bagus Bang Sada.

Parade Tari Nusantara 2012 diikuti 28 kontingen Provinsi di Indonesia. Ada 2 sesi dalam penampilannya, sesi 1 adalah dari Sulawesi Tenggara, DKI Jakarta, Lampung, Maluku, Jambi, Kaltim, Kalteng, Sulsel, Sumbar, Papua, NTT, Sulteng, Kalsel, Kalbar. Sesi 2 adalah dari Kepulauan Riau, DI.Yogyakarta, Gorontalo, Sulut, Bangka Belitung, Jabar, Jatim, Riau, Aceh, Papua Barat, Banten, Sumut, Jateng, Sumsel.

Parade Tari Nusantara 2012 ini berjalan sangat ketat karena semua peserta sangat bagus penampilan tari dan iringan musiknya. Saingan terberat adalah dari Kepulauan Riau (Kepri) karena semua kategori yang dilombakan diikuti kontingen Yogyakarta dan Kepri.

Tetapi akhirnya dewan juri telah menjatuhkan pilihannya kepada Yogyakarta sebagai Juara Umum. Hari Selasa 17 Juli 2012 pukul 15.00-16.00 di Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Piala akan diserahkan kepada Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, GBPH Yudhaningrat.

Penata tari Tri Anggoro menjelaskan dirinya merasa senang dan bangga karena baru pertama kali menjadi penata tari sudah bisa mendapatkan juara umum dalam Parade Tari Nusantara 2012. Namun Tri Anggoro tidak merasa cepat puas dengan keberhasilan yang ia raih saat ini karena jika cepat puas akan mengurangi kreatifitas sehingga dirinya merasa harus tetap berkreatifitas dalam membuat karya.

“Parade Tari Nusantara merupakan acara yang bergengsi, harapan saya, semoga kontingen Yogyakarta tetap bisa mempertahankan Piala Bergilir ini sehingga menjadi Piala tetap, karena mempertahankan lebih sulit dari pada meraih, ” terang Tri Anggoro.

Sementara itu, konsultan tari, Pardiman Djoyonegoro mengatakan , “Parade Tari Nusantara merupakan ajang untuk silahturahmi, ajang beradu kreatifitas, apresiasi seni dan berbagi kreasi.”

“Forum ini positif sekali karena ketika berkumpul dengan teman-teman dari berbagai pulau di Indonesia kita merasa persatuan dan kesatuan kuat, dan tahu potensi dari pulau lain. Yogyakarta telah tampil dengan semaksimal mungkin, maksimal dalam mengumpulkan energi untuk berbagi kreasi dan kreatifitas,”tambah Pardiman Djoyonegoro.

Tidak mudah untuk mendapatkan kejuaraan, Kontingen Yogyakarta dengan semangatnya yang tinggi telah berhasil membuktikan kemampuannya dalam berkreatifitas sehingga bisa mendapatkan apa yang dicita-citakan dan mengharumkan nama Yogyakarta.