Tuesday, November 25, 2014

SERAT-SERAT BUDAYA JAWA BARAT DAN PANDANGAN KRITIS TERHADAP KESENIAN

 Arthur S Nalan

“Semboyan” bhineka tunggal ika” memang selalu mengingatkan kita bahwa negara
kesatuan itu ada karena disangga oleh unsur-unsur yang berbeda. Adapun unsur-unsur
yang berbeda tersebut adalah serat-serat budaya yang sudah berakar dalam pada
masing-masing penyangga republik ini. Adapun serat-serat budaya itu adalah bahasa
ibu di daerah kita, nilai-nilai benar-salah, indah-buruk, pantas-tidak pantas, konsep-
konsep tentang kekuasaan, kedudukan penguasa,_ kedudukan rakyat, ekspresi
kesenian dan sebagainya |agi” (Kayam, 1990).
Kutipan tersebut mengingatkan kita untuk menyadari bahwa serat-serat budaya
yang telah menjadi milik kita telah ada dan tersebar dengan ciri khas sendiri-sendiri.
Milik kita yang memeriukan Sikap dan pandangan kritis didalam memperlakukannya,
terutama kaitannya dengan menumbuh kembangkan identitas nasional. ldentitas
nasional adalah"suatu kualitas batiniah yang disetujui oleh sebagian besar lapisan
suatu bangsa dan dituntut sebagai milik mereka yang khas.”
Masyarakat Jawa Barat pada awa\nya dapat dikategorikan sebagai masyarakat
Iadang (huma) bahkan sisa masyarakat Iadang yang khas sampai sekarang masih
terdapat di daerah Kanekes (Baduy). Pengaruh pola berladang masih terlihat di
beberapa tempat di Jawa Barat, di mana masih terdapatnya orang ngahuma. Sikap
yang paling menonjol dari masyarakat \adang ialah kebiasaan suka berpindah tempat
tinggal untuk mengikuti garapan ladangnya. Sekaiipun kini sudah tidak menggunakan
pola Iadang berpindah, karena semakin terbatasnya Iahan dan pembagian wilayah-
wilayah hunian. Corak hidup demikian mengakibatkan pola berfikir dan cara hidup dan
kebudayaan mereka sederhana, karena keseluruhan hidupnya dipengaruhi oleh cara
hidup mereka sehari-hari yang berpindah-pindah. Di samping itu masyarakat Jawa
Barat sangat erat dengan aiam sekitarnya. Pengaruh Hora cukup menonjol dengan
banyaknya tempat yanng diberi nama tanaman, bahkan telah berkembang menjadi
nama-nama kecamatan, desa, kampung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan. Tradisi
pemukiman pada aliran sungai menggejala dalam sistem toponimi.

BERSAMBUNG....

Friday, November 21, 2014

TEATER RAKYAT UYEG SUKABUMI

TEATER “UYEG” SUKABUMI
            Dilansir dari Duniaart.com kesenian Uyeg yang sudah hilang hampir 470 tahun kembali dipertunjukan di Gedung Pusat Kajian Islam (Islamic Center) lantai 2 jalan Veteran No. 3 Sukabumi pada tahun 2010 dalam acara sosialisasi hasil revitalisasi seni tradisional Uyeg dengan menampilkan cerita lawas yang berjudul Sadar Ditatar Siluman dengan sutradara Cece Suhanda dan para pelaku dari padepokan Rawayan pimpinan Wilang Sundakalangan.
            Uyeg Merupakan salah satu seni tradisi yang ada di daerah Sukabumi khususnya di daerah selatan yaitu di pesisir pantai pelabuhan ratu, kesenian teater rakyat ini sudah bisa di katakana puanah karena kesenian ini sudah lama sekali tidak dipertunjukan di Sukabumi ataupun daerah lainnya apalagi sepeninggalnya pak Anis Djati Sunda yang berhasil merevtalisasi seni teater rakyat ini hampir tidak ada lagi kelompik kesenian di Sukabumi  yang berinisiatif untuk mempertunjukan seni teater rakyat ini, menurut Wilang Sundakalangan kesenian teater rakyat ini sudah ada sejak masa kerajaan Sunda (Abad Ke 7 sampai 14) ketika itu digelar sebagai bagian dari ritual seren taun (Pesta panen) untuk menghormati Dewi Sri dan Guru Bumi namun terakhir kesenian ini ditampilkan pada tahun 1990 setelah Anis melakukan pengumpulan data pada orang-orang yang mau melestarikan Uyeg dari tahun  1978-1981, dari informasi yang diperoleh pada tahun 1854 sempat dipentaskan oleh ayah Akung dari generasi pertama yang mencoba mengangkat kesenian Uyeg, lalu oleh abah Ita sebagai generasi keempat sekitar tahun 1957-1960 yang mulai mengangkatnya kembali, sejak oleh ayah Akung sekitar tahun 1884 kesenian ini sudah berada di Sukabumi tapi mulai dicanangkan sebagai kesenian khas Sukabumi baru tahun 1981 oleh Anis Djatisunda
            Berdasarkan Hipotesis Anis Djati Sunda seni Teater Rakyat Uyeg merupakan satu bentuk teater rakyat Jawa Barat yang masih memiliki ciri-ciri dari pola struktur budaya nusantara yang mewarnai lambang tradisi megalitik, terbukti dengan masih digunakannya warna hitam dan putih pada kain yang disebut kelir, kain hitam putih ini merupakan simbol alam yaitu gambaran krisna-paksa (Hitam) dan Sukhla-Paksa (Putih) yakni terkait dengan alam yang memiliki dua unsur yang berbeda, bumi langit, atas bawah, laki-laki perempuan dan yang lainnya dan kata Uyeg memiliki filosofi bahwa Uyeg bersinonin dengan kata Oyag artina bergerak pada visualisasi pertunjuknnya kain kelir senantiasa digerak-gerakan saat pertunjukan sebagai simbol bahwa hidup itu terus bergerak, dinamis tidak setatis seperti pemikiran manusia.
            Anis Djatisunda sebagai tokoh yang berhasil merevitalisasi Uyeg Anis mencoba menyandingkan kesakralan seni teater rakyat ini dengan kemajuan teater modren, Anis memasukan dramaturgi barat dalam konsep pertunjuknnya, seperti tangga dramatik, dan tata artistis serta tata cahaya, namun semua itu memiliki batasan agar tidak merusak konsep sakral dari Uyeg itu sendiri. Seperti dalam naskah Uyeg yang Anis tulis inti cerita dari naskah ini adalahsadarnya dua orang jagoan yang juga penjahat setelah diberi nasihat oleh siluman dalam proses penampilannya banyak diselangi adegan humor.
            Bentuk pertunuukan Uyeg pada dasarnya mirip dengan pertunjukan seni teater rakyat Jawa Barat lainnya seperti longser, pada awal pertunjukan sekelompok nayaga mengawali pertunjukan dengan tetabuhan bedug dengan bunyi lambat yang semakin lama menjadi semakin cepat, bunyi-bunyi tersebut disusul dengan bunyi kendang dan alat gamelan lainnya serta bunyi teropet yang semakin memeriahkan suasana, seiring suara gamelan yang cepat sehelai kain yang berwarna hitam dan putih sebagai backdrop digetarkan, ketika aluanan musik melambat, munculah Raja Uyeg dari balik kelir dengan dandanan seperti raja dalam cerita pewayangan tapi memakai kaca mata hitam dan merokok kemudian raja Uyeg menjadi simbol alam Uyeg dan sang Rajapun memaparkan cerita Uyeg yang akan ditampilkan.
            Seni Teater Uyeg sama dengan teater rakyat yang lainnya perlu penelitian dan pelestarian lebih lanjut demi menambah khazanah kesenian teater di Indonesia, seni teater tradisi bisa menjadi sumber ide gagasan untuk penciptaan seni teater modern yang selama ini kian berkembang, seni teater tradisi memiliki ciri dan jatidiri yang mesti dikaji sehingga bisa dibaca juga pola pikir orang-orang pada masa itu, baik pola pikir berkesianannya atau pola pikir kehidupannya.   




Monday, November 10, 2014

NASKAH DRAMA PERANG DI PELABUHANRATU


                  PERANG BAJO DI PALABUHPANRATU         
Adegan 1
Ilustrasi musik : mengalun diiringi desiran ombak dan suara angin
Adegan konfigurasi kain melambangkan ombak dan perahu
 Narasi  1 :  Gelombang gelombang pasang telah bermain                                   
                     Mengosak asikan nuansa pantai
                     Perahu perahu dihalau pulang
                     Masuk ke pekarangan
                     Nelayan tetaplah nelayan
                     Tidaklah  kekurangan walau hanya sebentar
                     Menahan lapar dalam kelakar
                     Bersama gelombang pasang
                     Di pantai selatan inilah
                     Terbersit kisah sejarah palabuhanratu
                     Yang penuh dengan intrik intrik menyakitkan
                     kriminal, dan perjuangan atas hak dan harga diri

adegan 2
Muncul Purnamasari duduk di kursi (dari konfigurasi kain dan pemain)
Monolog : akulah purnamasari putri  tunggal raja pajajaran dari istri ke tujuh. 
                     aku terdampar disini akibat serangan banten dan Cirebon yang telah           
                     Memporakporandakan kerajaan. Pantai inilah tempat aku membuka    
                     Semangat dan kekuatan baru dalam kehidupanku. Dan sekarang,
                     Akulah penguasa kapuunan disini. Kemakmuran, kesejahteraan,
                     Ketentraman dan ketenangan masyarakat adalah tujuan utamaku
                     Sekarang. Akulah ratu puun purnama sari penguasa pantai selatan.

Adegan 3
Sebagian pemain membentuk blok konfigurasi dengan kain
Muncul nelayan yang sedang memancing

Nelayan1: setelah ratu puun membuka pemukiman ini, kemakmuran dan ketentraman sangat terasa sekali disini.
Nelayan2: memang ratu puun purnamasari sosok pemimpin yang bijak dalam mengatur roda dan tatanan kehidupan kapuunan di pantai ini.
Nelayan3:  ya… meski sosok perempuan tapi beliau sangat tangguh sekali dalam memulihkan keamanan di kapuunan ini, gagah dan berani dalam menghadapi musuh, makanya jangan menganggap sepele pada perempuan, bisa saja perempuan lebih tinggi ilmu, martabat, kekuasaan dan kekuatan dari laki laki, contohnya ratu puun kita ini.
Nelayan1: meskipun tangguh dan kuat, tapi tetap perempuan berjiwa halus, mudah terharu dan sensitive
Nelayan2: ya itu memang sudah kodrat perempuan lah.
Nelayan1: tapi, meskipun begitu tetap kita harus waspada dari kemungkinan yang terjadi. Sebab para bajo selalu mengintai, untuk memngganggu dan merampas barang kita.
Nelayan3: sudah…sudah mari kita pulang hari sudah sore dan hampir gelap

Adegan 4
muncul raja bajo dan baladnya dari perahu yang terbentuk oleh pemain dan kain
Bajo        : akulah raja bajo… sang penggasak, perampok, tak peduli orang bilang       apa tentang aku dan balad baladku. Yang penting, senang dan bahagia, bisa mendapatkan apa saja yang kumau dengan enteng ha ha ha ….
Balad       : ya…. Kamilah para bajo yang sadis, tak kenal ampun, dan si raja tega ha ha ha
Bajo          : ada mangsa yang lari….
Balad        : kami kejar
Bajo         : yang menantang
Balad       : kami lawan
Bajo         : ada yang menyerang
Balad       : kami dodet lah
Bajo         : ha ha ha ha…..( lalu terdiam)
                   ( balad diam lalu bajo menoleh dengan expresi yang marah)
Balad       : ha ha ha…..
Bajo         : very good… I love u full honey
Nelayan3: dasar manusia biadab, tidak punya rasa pri kemanusiaan, seenaknya saja kalian menggasak dan merampas barang rakyat yang tidak berdosa.
Nelayan1: kami sudah susah payah mencari dan mengumpulkannya untuk anak istri kami, kalian ambil,kalian rampas, kalian rampok dengan paksa.
Bajo         : apa kamu bilang? Merampas dan mengambil paksa? Ha ha ha memang itulah profesiku. Jangankan harta benda, kehormatan dan jiwa kalianpun bisa saja kami ambil
Nelayan3: memangnya kalian tuhan, bisa segampang itu  mengambil nyawa orang
Bajo         : gggrrrrhhhh   jangan banyak bacot….balad balad beri pelajaran mereka
Balad      : siap komandan
( lalu balad bajo menyiksa dan mengambil paksa barang masyarakat)
Narasi 2: keserakahan, sadis, biadab, merasuki jiwa jiwa kotor yang telah dipenuhi nafsu serakah dan angkara murka itulah jiwa bajo dan baladnya yang haus akan harta yang lapar akan kekuasaan, tak peduli siapa yang dihadapi, dilabrak dan digasaknya dengan sadis. Tak peduli rakyat kecil dan miskin sekalipun dijadikan objek penderita. Itulah jiwa jiwa yang harus di diperangi, dilawan dan dibumi hanguskan.

Adegan 5
Semua pemain terkapar muncul purnama sari. setelah melihat pemandangan yg mengharukan lalu berekspresi sedih dan histeris
Narasi 3: sedih, duka lara, dan nestapa berbaur dalam jiwa purnamasari tatkala melihat rakyat yang tidak berdosa jadi korban keserakahan dan keangkaramurkaan.
Monolog : tak seharusnya kalian yang menderita seperti ini, tak seharusnya kalian terkapar seperti ini, kalian tidak berdosa, kalian Cuma rakyat kecil yang berjuang membanting tulang untuk menyambung hidup. Saya tidak akan tinggal diam demi kalian. Wahai ombak laut yang dasyat ikutlah membangkitkan semangatku, wahai karang yang tegar diterjang badai ikutlah membarakan darahku, wahai burung camar yang terbang ikutlah mengamini doaku. Ya tuhan izinkanlah aku berjuang melawan keserakahan dan keangkara murkaan, bukan berjuang atas dasar dendam tapi hamba berjuang memperjuangkan hak dan harga diri yang terinjak. Haiiiiii para bajo yang laknat dan biadab tunggu aku akan meminta pertanggung jawaban kelakuan kalian yang tidak ber prikemanusiaan.
Narasi4 : dengan jiwa membara purnamasari mengumpulkan kembali sisa sisa semangat juang seorang pahlawan pajajaran sejati
                    (lalu naik ke pundak sebagian pemain)
                    kekuatan dan keteguhan hatilah yang diharapkan dalam peperangan yang akan dihadapinya nanti

adegan 6.
suasana hening dengan moving konfigurasi kain lalu terlihat purnamasari sedang duduk di karang dengan pandangan menengadah penuh harap
Narasi5 : hari berganti purnamasari menunggu saat yang dinantikan.
Lalu baladnya.dan muncul bajo
Bajo                : ha ha ha…. Ternyata bertemu di sini juga dengan perempuan cantik       yang katanya tangguh, lho ko bersedih juga, kami lewat kemari untuk beroprasi, katanya ada yang sesumbar mau membumihanguskan kami, apa bisa …..ha ha ha
Purnamasari  :ya… memang aku lagi bersedih, ikut prihatin bukan karena rakyatku              yang kalian binasakan tapi sedih dan prihatin melihat kelakuan kalian yang bejad dan tidak berprikemanusiaan.
Balad              : memang itu profesi kami ha ha ha ha
Bajo                : sudah jelaskah…. Manis
purnamasari : Hai bajak laut biadab beraninya kalian Cuma pada masyarakat yang kecil dan tidak berdaya, ternyata kesadisan dan keganasan kalian tidak seberapa , dimataku kalian Cuma semut semut kecil yang mudah untuk diinjak.
Bajo                 : ggrrrhhhh. Kurang ajarrrrrr. Beraninya kau menghinaku ya….
Balad             : sungguh berani dan lancing sekali kau bilang begitu pada pemimpin, kami rasakan akibatnya
    purnamasari: memang itulah kalimat yang pantas buat kalian yang punya tabiat buruk
( para pemain moving ganti formasi kepala bajo naik kepundak baladnya)
Bajo            : dengar purnamasari, tak seorangpun yang berani menghinaku, akan ku balas atas kelancangan mulutmu, kalau memang kamu siap mati hadapi aku, bajo yang tak tertandingi ( lalu loncat)
purnamasari:demi memperjuangkan hak dan hargadiri, demi memerangi keangkara murkaan aku siap jiwaraga, hayo lawan aku si singa betina dari pantai selatan.
(lalumereka bertarung dengan sengit)
Narasi6:    hitam dan putih mewarnai kesenjangan diantara mereka, jiwa pejuang bergelora melawan angkara murka dan jiwa serakah berkecamuk menuntut dendam. Pergulatan sengitpun terjadi, jiwa raga tertumpah tertumpu pada satu titik nadir yakni kemenangan
(akhirnya bajo kalah dengan dipenggal lehernya)
purnamasari : (sambil mengcungkan kujang dan memegang kepala bajo)
                            kujang ini sebagai saksi kan kulanjutkan kejayaan pajajaran di sini di pantai ini di pelabuhan ini, palabuhan nyai ratu.
Narasi7 :       sejak itulah pantai laut selatan aman tentram dan subur kembali, lantas nyai ratu puun purnamasari menghilang dan bertapa untuk mensucikan diri entah kemana. tampuk kepemimpinan  dilanjutkan oleh putrinya nyai ratu mayang sagara. Dan sejak itu pula pantai selatan ini sebagai tempat berlabuhnya nyai ratu puun purnama sari maka dinamai pantai palabuhan nyai ratu dan berakhir dengan nama palabuhanratu ( sekian)

Sumber cerita dari ruhak pajajaran karangan saleh danasasmita






                
                    


CONTOH NASKAH ORATORIUM PEMUDA BANGKIT

ORATORIUM PEMUDA BANGKIT SUKABUMI MAJU



  1. OVERTURE / PEMBACAAN STAF PRODUKSI
  2. MUNCUL PEMBAWA BENDERA BERGERAK DINAMIS DAN MEMBENTUK BLOK :
NARASI : merah putih berkibarlah di angkasa Indonesia dipucuk tertingi sebagai mimpi dan cita-cita bangsa, jiwa dan semangat merah putih berkibarlah daloam jiwa-jiwa pemuda Indonesia, menjadi wakil atas kemerdekaan indonesia menjadi perlambang atas jiwa nusantara, merah putih tetaplah kau berkibar memberi bukti pada dunia atas kedaulatan negara, merah putih tetaplah kau berkibar agar anak-anak negeri mempunyai cita dan cinta terhadap nusantara Indonesia
  1. MUNCUL PENARI, NELAYAN, PETANI, PEDAGANG, GURU, BERAKTIVITAS.
      NARASI
  1. MUNCUL PEMBAWA KAIN PANJANG SEBAGAI OMBAK LAUTAN MEMPORAK PORANDAKAN SUASANA,
      NARASI….
  1. MUNCUL  PEMBANTU YANG DISIKSA MAJIKANNYA, PEMERKOSAAN
PREMANISME, TAWURAN, DEMONSTRASI
NARASI :
bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan
Kemerdekaan belum bisa dirasakan seluruh rakyat…
Dimana engkau para pemimpin bangsa…
Dimana PANCASILA…
Dimana UUD…
Bangunlah…Muncullah…Lihatlah…Dengarlah…
Angkatlah martabat bangsa ini…
Ku menangis melihat nasib bangsa ini…
Pangeran Diponegoro…
Cut Nyak Dien…
dan yang lainnya…
Pasti menangis juga…
melihat nasib bangsa ini…
Mau dibawa kemana bangsa ini…


  1. MUNCUL ORANG2 YANG KORBAN BENCANA ALAM, SIKSAAN PEMERASAN DAN KORBAN NARKOTIKA
NARASI:
 Zaman memang telah mengalami transformasi
Transdensi dari sebuah titik kulminasi
Tapi tak begitu dengan moral
Di negeri yang masih menangis ini moral adalah segalanya
Moral adalah panglimanya
Namun kenyataannya di negeri tercinta
Moral adalah kacungnya
Merah putih semakin layu
Indonesia raya semakin fals
Garuda kian rendah terbangnya

  1. MUNCUL PELAJAR, GURU, MAHASISWA, PASKIBRA
      NARASI…………
  1. MUNCUL SEORANG TOKOH

NARASI:
Pada prasasti tugu negriku
Agar para pahlawan negri ini
Tak lagi keluhkan sesal
Harus lahir di negri ini
Sudirman-sudirman reformasi
Harus berkembang di negri ini
Sukarno-sukarno reformasi
Harus bangkit di negri ini
Suharto-suharto reformasi
Agar diponegoro tak lagi keluhkan java
Agar wolter monginsidi tak tangisi celebes
Agar Patimura tak sia-siakan maluku
Agar Indonesiaku
Tak lagi tangisanku
Biarpun Century tak terselesaikan
Biarpun hukum tak adil untuk mbok minah
Biarpun keadilan masih bisa dibeli oleh susno dan anggodo
Biarpun koin Prita menumpuk seperti gunung bromo
Dan sekalipun bumi berhenti berputar
lanjutkan perjalanan dan perjuanganmu
kau akan menjadi Pahlawan yang menyegarkan ketika dahaga
Bagai fajar yang menghangatkan di pagi hari
Dan Sang Surya yang tak pernah berhenti menyinari bumi














NASKAH ORATORIUM BUKU GUDANG ILMU


AKSARA MEMBANGUN PERDAMAIAN DAN KARAKTER BANGSA


1.    ADEGAN MUNCUL BENDERA
2.    MUNCUL UMBUL  BARANGBANG
3.    ADEGAN MASYARAKAT/ORANG TUA BEKERJA
4.    MUNCUL KEBODOHAN, KEMISKINAN DAN PENIPUAN
5.    KESENGSARAAN
6.    MUNCUL TOKOH MEMBAWA  BUKU
7.    PENARI MELATI
8.    SUASANA GEMBIRA

1.     MUNCUL PENARI BENDERA BERGERAK DENGAN DINAMIS
NARASI : merah putih berkibarlah di angkasa Indonesia dipucuk tertingi sebagai mimpi dan cita-cita bangsa, jiwa dan semangat merah putih berkibarlah dalam jiwa-jiwa anak Indonesia, menjadi wakil atas kemerdekaan indonesia menjadi perlambang atas jiwa nusantara, merah putih tetaplah kau berkibar memberi bukti pada dunia atas kedaulatan negara, merah putih tetaplah kau berkibar agar anak-anak negeri mempunyai cita dan cinta terhadap nusantara Indonesia

2.     MUNCUL UMBUL-UMBUL
NARASI : dihamparan persada nusantara, nyiur selalu melambai bak ingin menggapai harapan, gunung menjulang tegak berdiri bak pasak bumi, rimba hijau terhampar permadani negeri ini, laut membentang luas, pantai yang indah, sungai yang bekelok nan elok,   semua mengagumi alam indah berseri, namun akan kah ini lestari? Bisakah semua terjaga? Relakah semua ini terjamah tangan2 jahil, jiwa2 yang dzolim?
3.     MUNCUL ROMBONGAN ORANG TUA
NARASI : tangan2 dan tenaga2 yang perkasa, kaki2 dan kegigihan serata keringat yang bercucuran, bergelut dengan waktu demi sesuap nasi bagi dirinya, keluarga dan anak2nya, hanya itu yang mereka tahu, tanpa memikirkan bagaimana nasib kehidupan anak2nya di masa datang.  hari yang bahagia terlihat di wajahnya, mereka tak peduli dan tidak mau tahu bagaimana, koruptor merajalela, teroris dimana mana, harga melambung tinggi, suap menyuap jadi langganan,

ANAK2 BEKERJA DENGAN ORANG TUA
NARASI : lihatlah anak sekecil itu dipaksa bergelut dengan waktu, demi kelangsungan hidup dan sesuap nasi, anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu dipaksa pecahkan karang dengan jarinya tekepal, anak sekecil itu tak bisa membaca cerita2, dongeng2 dan ilmu2 yang berguna bagi masa depannya, lantas bagaimana kehidupan masa depannya lantas bagaimana kelangsungan generasi muda bangsa, kalau memang itu yang terjadi???
4.     MUNCUL VIRUS KEBODOHAN, KEMISKINAN DAN PENIPUAN
NARASI : Dan hidup tak selamanya mulus Adakalanya halangan dan
rintangan datang mengintai, mengintip mengahadang dan menghalang laju kehidupan,
virus virus kebodohan berkembangbiak karena membaca dan ilmu tak dihiraukan
virus virus kemiskinan menyeruak karena kebodohan menyelimuti akal dan fikiran
virus virus kekerasan dan tekanan  mewabah kemana mana karena kebodohan yang dimiliki
virus virus buta hurufpun muncul menubruk tubuh2 yang lusuh dan layu

5.     MASYARAKAT DAN ANAK2 EXIT PENJAHAT MENARI

6.     MUNCUL MASYARAKAT MENJADI MISKIN
NARASI :  orang orang menjadi miskin, orang orang menjadi terpedaya, orang orang menjadi obyek penderita dan tekanan. itulah akibat enggan mempelajari keaksaraan karena merasa tetap dapat melangsungkan hidup tanpa perlu mengenal keaksaraan, kemiskinan dan kebodohan kaum perempuan secara faktual membuat mereka tidak merdeka dan menjerumuskan nasib dan masa depan sebuah bangsa, Yang paling banyak menderita sesungguhnya adalah anak-anak dan perempuan. Anehnya, kita hanya bisa diam sembari mengamini bahwa mereka memang ”layak” dikasihani. Tanpa sadar sesungguhnya hal itu membuat mereka terpasung dalam kemiskinan dan kebodohan.
                 


7.     MUNCUL BUKU
NARASI : oohhh, alangkah sulitnya kami menggapaimu, alangkah susahnya kami memilikimu, oh alangkah senangnya bisa membaca dan menuntut ilmu, tolonglah kami,
Ya Allah…
Dimanakah ku harus berlabuh…
Saat semua dermaga menutup pintu,
Dan berkata “ ini bukan untukmu…”
“Segara menjauh karna disini bukan tempatmu….!!!”
Ya Allah…
Katakan padaku, dermaga untukku berlabuh…???
Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru.
Sampai kapan ku harus arungi waktu,..
Ku lelah Menunggu suatu yang tak pasti walau hanya Satu,..
Ya Allah …
Beri aku penerang jalan-Mu
Agar tak tersesat saat ku melaju,..
Kuatkan awak kapalku,
Saat badai menghalangi jalanku
Ya Allah …
Tetaplah disisiku,
Jangan Engkau menjauh dariku…
Karna ku mati tanpa hadir-Mu

LAGU : AJARILAH AKU MEMBACA SESUATU
              TUK BISA MENGGENGGAM DAN MENUNTUT ILMU
             KEBODOHAN ITU BUTA HURUF ITU
            INGIN KUSINGKIRKAN DEMI MASA DEPAN
NARASI : kita saksikan jeritan anak bangsa yang berharap bisa belajar, bisa membaca dan bisa menuntut ilmu, demi kahidupannya di masa depan. Yang selama ini masih banyak anak2 haus akan ilmu , dahaga akan membaca. Buta huruf makin memperburuk siklus kemiskinan maupun penyakit. Buta huruf melemahkan masyarakat dan menghambat proses demokrasi melalui marjinalisasi dan pengeksklusian. Buta huruf dapat mengganggu stabilitas masyarakat

MUNCUL TOKOH
Literasi adalah hak asasi manusia, alat pemberdayaan pribadi dan sarana untuk pengembangan sosial dan manusia. Kesempatan pendidikan tergantung pada melek.
Keaksaraan adalah jantung pendidikan dasar untuk semua, dan penting untuk memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, membatasi pertumbuhan penduduk, mencapai kesetaraan gender dan memastikan pembangunan perdamaian, berkelanjutan dan demokrasi. Ada alasan bagus mengapa keaksaraan merupakan inti Pendidikan untuk Semua (PUS).
Sebuah pendidikan yang berkualitas dasar yang melengkapi siswa dengan keterampilan keaksaraan untuk hidup dan pembelajaran lebih lanjut, orang tua melek lebih cenderung menyekolahkan anak mereka ke sekolah, orang-orang melek lebih mampu mengakses kesempatan pendidikan berkelanjutan, dan masyarakat melek huruf lebih baik diarahkan untuk memenuhi pengembangan menekan.
Semoga saja melalui diadakanya peringatan Hari Aksara International oleh UNESCO ini bisa mengurangi buta aksara diseluruh belahan dunia termasuk di Indonesia.

Muncul penari membawa buku
Narasi : Kemampuan membaca membuka peluang bagi kapasitas setiap individu untuk  berimajinasi dan mencapai impiannya masing-masing di masa depan. Hal tersebut membuka jalan bagi keadilan, kesetaraan, dan kemajuan yang lebih pesat. Kemampuan membaca aksara juga mampu membantu usaha perbaikan dalam masyarakat,meningkatkan kualitas proses politik, dan berkontribusi pada kebaikan bersama.Disamping adanya kemajuan, buta huruf terus berjangkit pada jutaan masyarakat,terutama pada perempuan dewasa dan anak-anak perempuan



NASKAH DRAMA PERJUANGAN REMAJA


MUNDINGLAYA

Rajah
Kisah ini berawal dari Rasa cemburu dan dengki, di tanah Padjajaran Antara pangeran kerajaan yang berebut tahta tertinggi. Menyebabkan perpecahan Antara dua saudara, kasi sayang dan perhatian, gelar dan tahta jadi rebutan. Dan impian anehpun muncul dalam tidurnya padmawati

Tatkala nyi padmawati bermimpi tentang Kerajaannya..
(masuk nyi Padma didalam mimpi, menari bertemu guriang)
Nyi padmawati : Siapakah kalian?
Guriang :  kami adalah para guriang..
Nyi : Guriang? Untuk apa kalian menemuiku?
Guriang : Padjajaran akan hancur , akan terpecah.. akibat ada rasa iri dengki akan terjadi perang saudara namun , Padjajaran akan kembali tentram jika ada  ksatria yang mampu pergi ke jabaning langit untuk  mengambil layang salakadomas..
Nyi : layang salakadomas?? Bagaimana maksudnya?
Guriang : semua akan mengetahhuinya nanti.. ingat, padjajaran akan kembali tentram hanya jika Lalayang salakadomas dapat diambil dari jabaning langit.
Nyi : tunggu.. masih banyak yang ingin saya tanyakan, guriang..
(gurang pergi, nyi kembali masuk)
NARASI
Hiruk pikuk padjajaran berubah abu abu. aroma
Bingung bercanpur ketegangan mengelilingi sekitar istana, untuk menentukan siapa Ksatriaa tangguh yang dapat melangkah menuju jabaning langit yang berbahaya.
Nyi  : kakanda, semalam dinda bermimpi aneh, dinda bertemu dengan guriang tujuh, mereka berkata bahwa pasjajaran akan hancur dan lululantah kanda.. dan padjajaran bisa kembali tentram hanya jika ada seorang ksatria mengambil layang salakadomas dari jabaning langit.
Raja : oh iya.. jika memang benar seperti itu..ini akan sangat buruk.. mari kita bicarakan..
(permaisuri dan raja keluar, masuk rakyat, lengser dan sunten jaya)
Lengser : Pengumuman.. siapakah diantara kalian yang sanggup pergi ke jabaning langit untuk mengambil layang salakadomas demi ketentraman padjajaran?
Rakyat : gawat.. gawat, akan terjadi perpecahan di padjajaran. Perang saudara sepertinya akan terjadi dikerajaan..
Sunten jaya: Jabaning langit? Ck..saya berharap sayalah yang dapan pergi kejabaning langit.. dengan begitu, saya memiliki peluang besar dimata raja untuk menjadi penggantinya,. Tapi, jabaning langit begitu sulit, saya tidak sanggup untuk melawan jonggrang kalapitung, guriang, dan menempuh medan yang sesulit itu..
Nyi ; bagaimana kanda? Apakah kanda sudah menemukan ksatria yang sanggup pergi ke jabaning langit?
Raja : belum adinda.
Lengser : dan sepertinya tidak ada Paduka
Rakyat, : ya, sepertinya tidak ada yang sanggup untuk pergi ke tempat sesulit jabaning langit paduka.
Raja, Bagaimana denganmu sunten jaya?
Suntenjaya : sejujurnya hamba sangat ingin pergi untuk menyelamatkan padjajaran, tapi untuk saat ini hamba belum sanggup paduka..
Lengser : Semua telah mendengarkan pengumuman yang diberitakan oleh paduka. Tetapi ada satu orang yang belum mengetahuinya, Paduka belum bertanya pada dia.. Dia ada di dalam penjara.
Raja : Siapakah dia?
Lengser: Dia adalah pangeran Mundinglaya..
Raja :Mengapa dia dipenjara??
Suntenjaya : Mundinglaya? Hha..paduka belum tahu, dia itu di penjara karena telah mengganggu kehormatan wanita.
Lengser : bukan.. bukan seperti itu.. Mundinglaya masuk jeruji besi karena keegoisan dan iri dengki Sunten jaya saudaranya, menghasilkan perang dingin antar saudara. Rasa iri atas semua perhatian guru gantangan, ayah suntenjaya dan istrinya.. Pangeran sunten jaya benar benar menyimpan dendam atas Mundinglaya, yang ber ujung dengan fitnah yang ia lontarkan .
Nyi : sudahlah kakanda, lebih baik kita coba menanyakannya.. mungkin saya mundinglaya sanggup untuk pergi ke jabaning langit.
Raja : baiklah, lengser bawalah mundinglaya kehadapanku sekarang..
(datanglah munding laya)
Mundinglaya : salam ayahanda. Sepertinya ada hal penting yang ingin ayahanda sampaikan, hingga memanggil hamba di penjara..
Raja : Mundinglaya, bersediakah ananda pergi menuju jabaning langit untuk mengambil layang salakadomas?
Munding : Layang salakadomas? Apakah itu ayahanda?
Raja : ananda, ketahuilah, Kerajaan kita ini sedang dalam ambang kehancuran.. dan hanya dengan Layang salakadomas lah Padjajaran dapat kembali tentram.. ini Tentang nasib padjajaran Anakku..
( nari galau)
Mundinglaya : Baiklah ayahanda, demi padjajaran hamba bersedia dan sanggup untuk pergi ke jabaning langit.

Sunterjaya : Tunggu kakek,  Dia kan seorang tahanan, apabila dia pergi ke Jabaning langit, Tidak ada jaminan dia akan kembali.
Raja : lalu apa yang cucunda usulkan, Sunten jaya.
Sunten jaya : kita beri dia Waktu 30 hari, apabila dalam jangka waktu itu dia tak kunjung kembali.. penjarakanlah Kanjeng nyimas Padmawati.
Raja : Bagaimana menurutmu, mundinglaya??
Mundinglaya : Ananda menyanggupinya, dan setuju dengan usulan sunten jaya.
Raja : kalau begitu, pergilah mundinglaya,. Bergurulah kau dengan Lengser, belajarlah tentnag ilmu lahir dan batiniah dari dia..semoga kamu berhasil Mundinglaya.
Mundinglaya : Ibunda, ananda pamit pergi ke jabaning langit..
Nyi Padma : pergilah anakku, doa ibunda selalu menyertaimu,. Demi padjajaran, dan demi kelangsuhan hidup kita..ibunda lepas kau untuk berjuang ke jabaning langit.. ibunda selalu mendoakanmu anakku, pergilah..
Munding laya : baik bunda, Layang salakadomas akan kuraih Demi Padjajaran da nDemi ibunda..
(monolog Suntenjaya)
Sunten jaya : munding laya .. munding laya.. Bersiaplah nyawamu di curi Jongrang kalapitung ahaaha..beran2i nya kau mengambil keputusan untuk pergi ke jabaning langit.. 30 hari lagi, akulah pewaris tunggal padjajaran,. Dan bersiaplah nyi padmawati terpenjara. Lalu, ibundaku, Nyitejamantri lah yang akan menjadi Permaisuri utama..
Lengkaplah semua duri di hidupmu, Mundinglaya

Rakyat : Syukurlah akirnya ada yang sanggup untuk mengambil layang salakadomas, semoga Panngeran mundinglaya selamat , dapat mengambil layang salaka domas dan menjadikan Padjajaran kembali tentaram,

NARASI
Hmparan angina malam menyengat hati
Menengadah pandangan
Dengan asa yang terpasung semangat perjuangan
Peluh bertarung dengan hebatnya fikiran yang sering tak sejalan
Memperjuankan idealism dan Harga diri yang makin tererosi.

Lengser : Mundinglaya, kini kau sudah siap memulai perjalananmu menuju jabaning langit.. kau harus ingat dan pergunakanlah hal hal yang telah aku sampaikan mu. Semoga keberuntungan ada dipihakmu..doaku menyertaimu Mundinglaya.
Mundinglaya : terimakasih ki lengser. Ananda pergi sekarang.

Mengarungi ilalang, Ditemani bulan yang enggan bersinar.
Wajah pucat terbakar matahari tanah Sunda..
Mencoba terus berbicara pada tuhan yang diyakini sedang mengawasi.

Mundinglaya : Pelu ini nantinya akan menjelma pena yang bercerita akan fikiran dan hati yang terus terkuras tenaganya
Tuhan, aku berpasrah atas kapas ataupun belati yang akan kau simpan dalam langkahku menuju jabaning langit
Demi padjajaran. Demi ibunda, Demi harga diri dan ketentraman bangsa. Akpapun akan siap aku hadapi dengan seizinmu tuhan.
(tiba tiba dating jongrang kalapitung)
Jongrang kalapitung ; “Mengapa kamu memasuki wilayahku? Apakah kamu menyerahkan diri sebagai santapanku?”
Mundinglaya : coba saja kalau bisa
(mundinglaya bertarung dengan, jongrang kalapitung, )
Langit menghitan, di temani mega yang melempar cahaya tajam menuju bumi menjadi latar tertemuan dua makluk kuat di puncak gunung.
Mencekam, kuat, hebat,
Menerkam, ganas, mematikan
Mereka berjuang mempertahankan kejayaan dan harga diri masing masing,
(jonggrang kalah)
Munding laya ; “Katakan dimana Jabaning Langit?”
Jongrang kalapitung ; “Di dalam dirimu.”
Mundinglaya ; “Jangan berbohong! Di manakah Jabaning Langit?”
Jongrang ; “Di dalam hatimu.”
Mundinglaya : baiklah, aku akan melepaskanmu,. Tapi ingat, jangan lagi kau menganggu padjajaran
Jongrang : baiklah, aku tidak akan lagi menganggu padjajaran,. Mundinglaya, karena perjuanganmu sangat besar, aku akan membantumu untuk pergi ke jabaning langit. Meraih layang salakadomas itu demi Padjajaran,. Izinkanlah aku untuk membantumu.

Tuhan meraih uluran Mundinglaya yang meminta bantuannya. Dengan bertekadkan kejujuran, kerjakeras, tanggungjawab.
Dalam bawah sadarnya, mundinglaya berhasil denganseizin yang maha kuasa menembus langit ketujuh memperjuangkan padjajaran untuk meraih layang salakadomas
(Guriang dating menghampiri mundinglaya)
Guriang : untuk apa engkau dating kemari.
Mundinglaya : siapakah kalian?
Guriang: Kamu adalah Guriang, Untuk apa engkau dating kemari hey manusia?
Mundinglaya : aku dating kesini untuk meraih Layang salakadomas
Guriang : Salakadomas? Dengan berbekal apa kau berani dating ke jabaning langin dan ingin meraih Layang salakadomas?
Mundinglaya : hamba di utus oleh kerajaan untuk mengambil layang salaka domas yang akan menjadikan Kerajaan oadjajaran kembali tentram. Hamba hanya berbekal tekad, kejujuran, dan kerja keras. Dapatkah kalian memberi tahu saya diamanakah layang salakadomas itu?
Guriang : hanya bermodal itu? Rebutlah Layang salakadomas itu dari kami.
Mundinglaya :ya, hanya itulah bekalku dating kesini, Jabaning langit.. aku yakin dapat membawa pulang Layang salakadomas, demi padjajaran, demi ibundaku ..
(guirang dan mundinglaya gelut)
NARASI
Tekad mengitari seluruh nadi mundinglaya.
Tak akan disia kannya perjuangan yang telah ia perjuangkan hingga berdiri di langit ketujuh itu.
Mereka bergulung mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki..bertarung sehabis mungkin memperjuangkan masing masing ideologi,
(mundinglaya mati, nyipohaci dating)
Nyi pohaci : cucuku mundinglaya.. belum waktunya kau pergi menghadap ilahi. Kau adalah penerus kerajaan, kau adalah Raja yang sesungguhnya.
Berbudi pekerti, jujur, tidak tamak, kerja keras, dan tekad yang kuat telah bertumbuh dan bersarang di jiwamu..dengan izin tuhan yang maha kuasa, aku akan membangunkanmu kembali, untuk memperjuangkan Layang salakadomas demi padjajaran.
(mundinglaya hidup lagi dan siap siao bertarung lagi)
Guriang : tidak perlu lagi ada pertempuran
Mundinglaya :mengap? Kalian meraka kalah? Atau jangan jangan berubah fikiran untuk memberikan layang salaka domas itu?
Guriang : ketahuilah mundinglaya, kau tidak perlu merebut layang salakadomas dari kami. Kau telah memilikinya… mundinglaya, salakadomas itu bukanlah benda..
Tapi itu ada di hati setiap orang, dan sikap serta sifat mu lah yang menumbuhkan layang salaka domas dalam istrimu.
Kau adalah calon penguasa padjajaran..
Mundinglaya Dikusumah





Sunday, November 9, 2014

KESENIAN TOPENG TAMBUN

Tari  Pada Kesenian Topeng Tambun
“Tinjauan terhadap fungsi dan makna Tari Topeng
Pada Kesenian Topeng Grup Candra Baga Tambun Kabupaten Bekasi”.
Oleh
Wisye Dini
(wisye_dini@yahoo.co.id)

Latar Belakang
Topeng Tambun termasuk salah satu topeng Betawi, karena hidupnya di daerah pinggiran Betawi, dalam pertunjukannya terdapat unsur tari, musik, lakon, sastra, dan seni rupa. Menurut  Martaseli (79) kesenian topeng Tambun berasal dari Topeng Cisalak (Depok), yang diciptakan oleh Djiun dan Mak Kinang yang dalam penyajiannya terdapat pemakian kedok putih, kuning dan jingga. Dari kesenian topeng ini kemudian terlahir topeng Blantek yang diciptakan oleh Naim anak pertama Djiun yang meniru dari kesenian topeng Cisalak. Istilah  blantek berasal dari kata blantakan yang artinya tidak berarturan. Kemudian Topeng topek Cisalak ini berkembang ke daerah lainnya, termasuk ke daerah Tambun Kabupaten Bekasi.
Seperti kesenian topeng Cisalak, dalam pertunjukan kesenian topeng Tambun senantiasa mepertunjukan tari yang dikenal dengan tari topeng. Menurut Pigeaud kata “topeng” berarti kedok yang menutupi seluruh wajah seseorang (Pigeaud). Tetapi dalam pertunjukan topeng di daerah pinggiran Betawi tidak semua tokoh-tokohnya memakai topeng, malah lebih banyak yang tidak memakai topeng, berbeda dengan topeng Cirebon yang penarinya memakai topeng. Dalam topeng Betawi yang memakai topeng adalah Topeng Tunggal (tari topeng yang memakai tiga kedok berwarna putih, kuning dan jingga) dan tokoh Jantuk. Menurut Marta Seli kata topeng digunakan untuk menyebut ronggeng topeng atau penari topeng, dan untuk menyebut pergelaran topeng secara keseluruhan.
Pada pertunjukan saat ini, secara garis besar struktur pertunjukan terdiri dari tatalu (muisk pembukaan, pertunjukan tari dan sandiwara atau penyajian cerita. Menurut Marta masyarakat Bekasi menyukai tariannya dari pada sandiwaranya, indikatornya setelah pertunjukan tari, banyak penonton yang meninggalkan tempat pertunjukan.
Dalam pertunjukan topeng terdapat beberapa tarian, tariannya ada yang tradisi ada yang kreasi baru. Yang tradisi antara lain Lipet Gandes (tari ronggeng dan bodor) dan Topeng Tunggal, sedangkan yang kreasi baru diantaranya Enjot-enjotan, Kang Aji, dan  Blantek. Tari-tarian tersebut kini telah dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah SD, dan SMP.
Sebagaimana disebutkan di atas, tari topeng cenderung lebih diminati oleh masyarakat, mengapa tarian topeng lebih digemari dari pada pertunjukan sandiwaranya? Bagaimana fungsi dan maknanya ?, merupakan masalah yang perlu jawabanya.
Rumusan Masalah
Pokok permasalahan yang kan dibahas difokuskan pada kondisi pertunjukan topeng pada saat ini . Untuk membahasnya akan menggunakan berbagai disiplin ilmu seperti antropologi, sosiologi, estetika, semiotika dan sumber-sumber lainnya yang kiranya dapat menunjang tulisan ini. Permasalahan penelitian ini akan di rumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian,     sebagai berikut;
Mengapa penyajian tari lebih disukai dari pada pertunjukan sandiwaranya?
Bagaimana fungsi dan maknanya?

Tujuan Dan Manfaat
Pada intinya tujuan dan manfaat penelitian ini untuk menjawab pokok permasalahan guna memperoleh gambaran yang tekait dengan peristiwa pertunjukan topeng Tambun dan ingin menggali guna memperoleh gambaran pertunjukan topeng saat ini, fungsi, makna, nilai  yang terdapat dalam kesenian topeng. Selain itu, dengan penelitian ini dapat memberikan informasi dan edukasi bagi aktivis seni, pemerhati seni, pemerintah, masyarakat serta insan akademis dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisi

Landasan Teori
Untuk mengkaji persoalan fungsi, penulis akan memakai teori fungsi Curt Sachs dalam bukunya History of the Dance (1963:5) mengutarakan, bahwa ada 2 fungsi utama dari tari yaitu 1) untuk tujuan magis 2) untuk tontonan. Gertrude Prokosch Kurath dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Panorama of Dance Ethnology”, secara rinci mengutarakan ada 14 fungsi dari tari dalam kehidupan, yaitu 1) inisiasi kedewasaan 2) percintaan 3)persahabatan 4)perkawinan 5)pekerjaan 6)pertanian 7)perbintangan 8)perburuan 9)menirukan binatang 10)menirukan perang 11) penyembuhan 12) kematian 13)kerasukan 14) lawakan
fungsi seni pertunjukan menjadi dua kategori, yaitu kategori fungsi—fungsi primer dan kategori fungsi sekunder.
Setiap zaman, setiap kelompok etnis, serta setiap lingkungan masyarakat, mempunyai berbagai bentuk seni pertunjukan yang memiliki fungsi primer dan sekunder yang berbeda. Pembagian fungsi primer menjadi tiga berdasarkan atas siapa”yang menjadi penikmat seni pertunjukan itu. Hal ini penting kita perhatikan, sebab seni pertunjukan disebut sebagai seni pertunjukan karena dipertunjukkan bagi penikmat. Bila penikmatnya adalah kekuatan-kekuatan yang tak kasat mata seperti misanya para dewa atau roh nenek moyang, maka Seni pertunjukan berfungsi sebagai sarana ritual. Apabila penikmatnya adalah pelakunya sendiri seperti misalnya seorang pengibing pada pertunjukan tayub, ketuk tilu, topéng banjét, dogér kontrak,kliningrm bajidomn, dan discoteque (diskotik), seni pertunjukan berfungsi sebagai sarana hiburan pribadi. ]ika penikmat seni pertunjukan itu adalah penonton yang kebanyakan harus membayar, seni pertunjukan itu berfungsi sebagai presentasi estetis. Dengan demikian secara garis besar seni pertunjukan memiliki tiga fungsi primer, yaitu (1) sebagai sarana ritual; (2) sebagai ungkapan pribadi yang pada umumnya berupa hiburan pribadi;dan (3) sebagai presentasi estetis. Di lingkungan masyarakat Indonesia yang masih sangat kental nilai—nilai kehidupan agrarisnya, sebagian besar Seni pertunjukannya memiliki fungsi ritual. Fungsi—fungsi ritual itu bukan saja berkenaan dengan peristiwa daur hidup yang dianggap penting seperti misalnya kelahiran, potong gigi, potong rambut yang pertama, turun tanah, khitan, pernikahan, serta kematian; berbagai kegiatan yang dianggap penting juga memerlukan seni pertunjukan, seperti misalnya berburu, menanam-padi, panen, bahkan sampai pula persiapan untuk perang. Pada pertunjukan untuk kepentingan ritual ini penikmatnya adalah para penguasa dunia atas serta bawah, sedafigkan manusia sendiri sebagai penyelenggara lebih mementingkan tujuan dari upacara itu daripada menikmati bentuknya. Seni pertunjukan semacam ini bukan disajikan untuk dinikmati oleh manusia, tetapi justru harus mereka libati  (Soedarsono, 1985: 5-22).
Fungsi primer yang kedua yaitu sebagai ungkapan atau hiburan pribadi.Keterlibatan penikmat sama dengan fungsi pertama. Seni pertunjukan jenis ini penikmatnya harus melibatkan diri dalam pertunjukan itu. Biasanya di Indonesia bentuk pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan pribadi disajikan oleh penari wanita, dan yang ingin mendapatkan hiburan adalah pria yang bisa menaribersama penari wanita tersebut. Di Jawa Tengah bentuk-bentuk  pertunjukan seperti ini terkenal dengan nama tayuban dan lénggéran. Di Iawa Timur terdapat gandrung. Di Bali lazim disebut jogét. Di Sumatera terdapat ronggéng Malaya. Di Jawa Barat banyak sekali bentuknya, antara lain ketuk tilu, longsér,topéng banjét, brmgréng, rmiggéng gunung, dan yang paling mutakhir adalah jaipongan dan kliningan bajidoran atau kliningan jaipongan. Pria yang ingin rnenikmati 1enggak—1enggok penari wanita yang pada umumnya disebut ronggéng atau telédék (lédék) atau sindén—tatandakan serta lantunan nyanyiannya, harus meiibatkan diri dalam pertunjukan ini dan menari bersama penari wanita itu. Oleh karena itu jenis seni pertunjukan ini juga bisa dikategorikan sebagai seni yang dilibati (art of participation). Oleh karena pertunjukan ini hanya dinikmati sendiri oleh pelakunya, bentuk ungkapan estetisnya tidaklah penting.Biasanya asal penari pria itu bisa mengikuti irama musik yang mengiringi pertunjukan itu,ia sudah puas. Setiap penari pria yang menari bersama penari wanita yang menghiburnya memiliki gaya penampilan sendiri-sendiri 
Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai penyajian estetis memerlukan penggarapan yang sangat serius dan kadang kadang juga rumit, oleh karena penikmatyang pada umumnya membeli karcis, menuntut sajian pertunjukan yang baik. Di Indonesia seni pertunjukan sebagai penyajian estetis mulai muncul pada akhir abad ke-19, ketika di beberapa wilayah tumbuh kota-kota yang para penghuninya dalam hidup mereka tidak tergantung pada pertanian. Mereka itu adalah para karyawan pemerintah, para pengusaha, para karyawan perusahaan, para guru sekolah, para pemilik toko, para bankir, serta para pedagang. Sebagai makhluk yang rnerniliki aesthetic behavior atau perilaku estetis yang secara naluriah ingin menikmati sajian—sajian estetis, rnasyarakat kota atau urban itu memerlukan bentuk-bentuk pertunjukan yang menghibur, yang bisa dinikmati dengan membeli karcis kapan saja dan di mana saja. (Tati Narawati, Soedarsono, 2002: 199-215).
Seangkan  untuk membahasa persoalan makna akan menggunakan teoi makna Menurut Marcel Danesi dalam bukunya Pesan, Tanda dan Makna, kata makna yang dalam bahasa Inggris disebut meaning adalah konsep bahwa segala yang eksis memiliki maksud atau tujuan di luar keberadaannya semata.(Marcel Danesi, 2004 : 373). Menurut Purbo Hadiwidjoyo MM., dalam bukunya yang berjudul Kata dan makna, dalam ilmu bahasa terdapat tujuh jenis makna, Pertama makna beranggitan (conceptual meaning). Ini tak lain ialah makna yang masuk akal, yang menunjuk kepada apa yang sebenarnya dimaksudkan. Makna itulah yang membuat kita mampu berkemunikasi. Kedua istilah makna menali (associative meaning).  Jenis ini kemudian dapat dibagi lagi ke dalam makna bernilai rasa (conatative meaning), makna kelompok (sosial meaning), makna tersantir (reflected meaning), makna kenaan (affective meaning) dan akhirnya, makna sepemanggil (collocative meaning). Makna yang bersifat rasa dapat juga disebut ujung terbuka.  Pada hakikatnya, ini sama saja dengan pengetahuan kita mengenai alam semesta yang berujung terbuka. Makna kelompok dan makna kenaan menyangkut dua segi dalam kita berkomunikasi. Makna kelompok menyampaikan kepada pihak penerima pesan ihwal lingkungan kelompok kita. Makna kenaan digunakan untuk menyatakan persaan kita. Makna tersantir dan makna sepemanggil bersangkutpautan dengan kata atau kosakata yang digunakan dalam berbahasa. Makna bertema (thematic meaning) adalah makna yang dgigunakan dalam mengkomunikasikan pesan. (Purbo Hadiwidjoyo MM., 2012 : 29-30).

Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, metode ini disebut juga metode artistic, karena proses penelitian  lebih bersifat seni dan disebut juga metode metode interpretative karena data dari hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpreatsi terhadap data yang ditemukan di lapangan. (Sugiyono, 2012 : 7-8).
 Penelitian ini dilakuakan melalui beberapa tahapan yaitu ; persiapan, penelitian lapangan,pengolahan data, sutdi pustaka, dan penyusunan laporan.  Langkah-langkah strstegis yang dilakukan sebagai berikut :
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi, wawancara, observasi, studi kepustakaan dan studi dokumentasi.
2.   Observasi Atau Pengamatan
Agar data terjamin akurasinya, maka dalam penelitian ini melakukan observasi atau pengamatan ke lapangan, dengan menyaksikan pertunjukan dan peristiwa budayanya. Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai data kajian.
3.  Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi pada dasarnya untuk mengumpulkan data-data tertulis termasuk audio visual, seperti  literatur-literatur  baik berupa buku, artikel-artikel dalam jurnal , Koran, majalah CD/VCD,, yang akan dijadikan sumber rujukan. Guna memperoleh data yang valid.
Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisi, dengan langkah kerja di awali dengan pengumpulan data, dilanjutkan dengan reduksi data, verifikasi atau penarikan kesimpulan.


    Pembahasan
    Dugaan sementara
Faktor penyebab tari lebih disenangi, karena aspek tarian lebih dinamis perkembangannya, dari pada sandiwaranya yang cenderung statis, serta secara durasi tarian lebih singkat dan pemainnya pada umumnya wanita belia.
Fungsi sebagai  pelengkap pertunjukan topeng, pertunjukan khusus,  dan hiburan
Makna : Sosial, Budaya , Ekonomi, Estetika dan Pendidikan Nilai-nilai

 Daftar Bacaan.
Danessi Marcel           
2012        Pesan, Tanda & Makna, Yogyaakarta, Jalasutra,
Hadiwidjoyo MM Purbo
2012        Kata dan Makna, , Bandung, ITB
Merriam Alan P. Terjemahan Triyona Nramantyo
1999/2000    Antropologi Musik, judul asli The Antropology Of Musik, Yogyakarta, Institut Seni Indonesia
Narawati Tati, Soedarsono RM
            2005    Tari Sunda Dulu, Kini, Esok, Bandung Past UPI.
Pegeaud
           1938    Pertunjukan Rakyat Jawa Sumbangan Bagi Ilmu Antropologi, terjemahan KRT Muhamad Husodo P., Surakarta, Perpustakaan Rekso Pustaka